News

Dari Ringan ke Berat, ini Tiga Macam Najis Legkap Beserta Contohnya


Dari Ringan ke Berat, ini Tiga Macam Najis Legkap  Beserta Contohnya
Ilustrasi membersihkan najis (pixabay.com/ Steve Buissinne)

AKURAT.CO, Bagi setiap muslim, wajib hukumnya mengetahui apa saja benda-benda yang masuk dalam kategori najis. Hal ini karena syarat sahnya suatu ibadah seperti salat adalah suci dari hadas maupun najis.

Najis sendiri secara bahasa merupakan suatu benda yang dianggap kotor meskipun suci. Jadi, jika menggunakan pengertian ini maka benda apa pun yang dianggap kotor seperti air liur, ingus, dan sebagainya bisa dianggap najis.

Namun, pada pembahasan kali ini akan dibedah najis menurut hukum fikih. Salah satu definisi najis menurut hukum fikih ini terdapat dalam kitab Kaasyifatus Sajaa karangan Syekh Muhammad Al-Jawi yang menuliskan bahwa najis adalah sesuatu yang dianggap kotor dan menyebabkan ibadah salat menjadi tidak sah.

Berdasarkan hukum fikih ini, najis dibedakan menjadi tiga macam yakni najis mukhaffafah (najis ringan), najis mutawassitah (najis sedang), dan najis mughalladhah (najis berat).

Pembagian macam-macam najis tersebut sebagaimana dikatakan oleh Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safiinatun Najaa. Beliau menulis, "Najis ada tiga macam: mughalladhah, mukhaffafah, dan mutawassitah. Najis mughalladhah adalah najisnya anjing dan babi beserta anakan salah satu dari keduanya. Najis mukhaffafah adalah najis air kencingnya bayi laki-laki yang belum makan apa pun selain air susu ibu dan belum sampai usia dua tahun. Sedangkan najis mutawassitah adalah najis-najis lainnya.”

Untuk memahaminya lebih jauh, berikut adalah penjelasan masing-masing najis tersebut:

1. Najis mukhaffafah (najis ringan)

Benda yang dihukumi najis mukhaffafah ini adalah air kencing bayi laki-laki yang sama sekali belum makan apa pun kecuali air susu ibu (ASI) dan belum genap berusia dua tahun.
Karena najis ini masih tergolong ringan, maka cara menyucikannya pun cukup dengan memercikkan air ke benda yang terkena najis tersebut.

Perlu dipahami bahwa air yang digunakan harus lebih banyak dari air kencing bayi laki-laki tersebut agar bisa mengenai seluruh bagian yang terkena najis. Di sini, tidak disyaratkan air yang digunakan harus mengalir. Adapun setelah benda misalnya kain yang terkena najis dipercikkan air, maka cukup diperas dan dikeringkan.

2. Najis mutawassitah (najis sedang)

Contoh benda-benda yang termasuk najis jenis ini di antaranya seperti kotoran manusia, kotoran hewan, darah haid, bangkai (kecuali bangkai manusia, ikan dan belalang) dan lain sebagainya. Najis mutawassitah ini dibedakan menjadi dua yakni najis ainiyah dan najis hukmiyah.

Najis ainiyah adalah najis yang terlihat dengan jelas rupanya, rasa dan aromanya. Sedangkan najis hukmiyah adalah najis yang tidak tampak seperti bekas air kencing.

Cara menyucikan najis ini adalah dengan membersihkan terlebih dahulu benda najis itu kemudian menyiramnya dengan air sampai benar-benar bersih baik rupa, rasa dan aromanya. Air yang digunakan bisa mengalir atau cukup dengan kain yang bersih dan basah selama mencukupi untuk membersihkan najis itu.

3. Najis mughalladhah (najis berat)

Yang termasuk najis berat ini adalah najisnya anjing dan babi serta anakan dari keduanya. Maksud dari anakan itu adalah semisal ada hewan yang kawin dengan anjing kemudian anaknya dominan menyerupai anjing maka termasuk najis mughalladhah.

Adapun untuk menyucikannya adalah membilas benda yang terkena najis itu dengan tujuh kali bilasan menggunakan air dan salah satu dari bilasan itu dicampur dengan debu.

Wallahu a'lam.[]