News

Dapat Izin Bangladesh, PBB Kunjungi Pengungsi Rohingya di Pulau Terpencil

PBB akhirnya bisa bertandang ke pulau terpencil yang jadi tempat relokasi bagi ribuan pengungsi muslim Rohingya


Dapat Izin Bangladesh, PBB Kunjungi Pengungsi Rohingya di Pulau Terpencil
Dalam foto tertanggal 15 November 2018 ini, para pengungsi Rohingya meneriakkan slogan menentang repatriasi ke Myanmar di sebuah kamp dekat Cox's Bazar, Bangladesh (AP via Benarnews)

AKURAT.CO, Delegasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhirnya bisa bertandang ke pulau terpencil yang jadi tempat relokasi bagi ribuan pengungsi muslim Rohingya.

Seperti diwartakan Reuters, PBB dijadwalkan akan melakukan kunjungan tiga hari di Bhasan Char, pulau terpencil nan rawan banjir yang terletak di Teluk Benggala. Kunjungan pertama itu berlangsung mulai Rabu (16/3) waktu setempat, dan dalam rencananya, PBB akan meninjau langsung kondisi serta fasilitas di Bashan Char.

"Kunjungan perdana selama tiga hari ini akan mempertemukan para ahli dari badan-badan PBB yang terlibat dalam tanggapan pengungsi Rohingya di Bangladesh.

"Kunjungan ini akan melihat situasi dan fasilitas terkini di Bhasan Char, menilai kebutuhan pengungsi Rohingya yang dipindahkan ke sana, serta berdiskusi dengan pihak berwenang dan pihak lain yang saat ini bekerja di Bhasan Char," terang badan PBB yang mengurusi pengungsi, UNHCR saat dimintai keterangan melalui email oleh Reuters.

Mulai awal Desember lalu, Bangladesh mencatut para pengungsi Rohingya dari kamp-kamp perbatasan di negara Myanmar dan mentransfer mereka ke Bhasan Char. Sejak itu, relokasi pengungsi Rohingya terus dilakukan. Mengingat, dan dalam misinya, Dhaka ingin memindahkan setidaknya 100 ribu pengungsi Rohingya dari kamp perbatasan yang didiami 1 juta orang lebih. Hingga kini, jumlah pengungsi Rohingya yang berhasil dipindahkan Bangladesh telah mencapai hingga lebih dari 13 ribu orang.

Namun, selama sekitar tiga bulan proses relokasi, Bangladesh terus mendapatkan kecaman. Kelompok-kelompok hak asasi manusia pun rajin mempersoalkan tentang kondisi Bashan Char, pulau yang baru muncul 20 tahun dari laut dan tidak pernah dihuni itu. Mereka juga kerap menegaskan bahwa pulau itu tidak hanya terpencil, tetapi juga rawan banjir, rentan terhadap badai, dan bisa tenggelam saat air pasang. Padahal, begitu warga Rohingya tiba di Bhasan Char, Rohingya, mereka tidak diizinkan untuk meninggalkan pulau itu.

Bangladesh juga sempat dikritik lantaran dinilai enggan berkonsultasi dengan badan pengungsi global sebelum merelokasi para pengungsi Rohingya. Bahkan, UNHCR sendiri sebelumnya tidak dilibatkan dalam upaya relokasi para pengungsi Rohingya ini. Selain itu, UNHCR juga sempat tidak dapat izin dari Dhaka untuk melakukan penilaian teknis dan keamanan pulau Bashan Char.

Namun, di tengah kritikan itu, Bangladesh selalu menyebut bahwa relokasi bersifat sukarela. Mereka juga terus menepis masalah keamanan Bashan Char yang dikhawatirkan banyak pihak. Mereka menjelaskan bahwa untuk melindungi para pengungsi, pemerintah telah membangun pertahanan banjir serta perumahan untuk 100 ribu orang. Itu termasuk pembangunan rumah sakit hingga pusat penanggulangan bencana topan.

Dalam tambahan argumennya, Bangladesh juga menganggap bahwa kepadatan yang berlebihan di kamp-kamp telah memicu kejahatan. Karena itulah, menurut mereka, relokasi menjadi hal yang sangat penting bagi para pengungsi Rohingya.

"Kami berharap ini (kunjungan) akan menghilangkan kekhawatiran apa pun yang dimiliki PBB tentang relokasi dan mereka akan dilibatkan dalam relokasi dan memberikan dukungan yang dibutuhkan orang-orang Rohingya," kata seorang pejabat senior di Kementerian Luar Negeri Bangladesh.[]