Ekonomi

Dampak Pandemi Covid-19 Belum Reda, Inflasi Februari 2021 Sentuh 0,10 Persen

Dampak Pandemi Covid-19 Belum Reda, Inflasi Februari 2021 Sentuh 0,10 Persen
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyampaikan paparannya dalam rilis Inflasi bulan Juli 2018 dan Statistik berbagai sektor pada Triwulan II-2018 di Gedung BPS, Jakarta, Rabu (1/8/2018). Pada Juli 2018 terjadi inflasi sebesar 0,28 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 134,14. Dari 82 kota IHK, 68 kota mengalami inflasi dan 14 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di kota Sorong, dan terendah di kota Depok, Banyuwangi, dan Surabaya. (AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo)

AKURAT.CO, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi pada Februari 2020 sebesar 0,10% month on month (MoM).

Sehingga inflasi tahun kalender adalah 0,36%,  sementara inflasi tahun ke tahun atau year-on-year (YoY) adalah 1,38 persen.

“Pada bulan Februari 2021 terjadi inflasi 0,10%, laju ini lebih lambat dibanding Januari 2021 dan lebih lambat juga dibanding Februari 2020,” ujar Kepala BPS Suhariyanto, Senin (1/3/2021).

baca juga:

Ia menyebutkan dari 90 kota yang dipantau BPS, 56 kota mengalami inflasi. Sementara sisanya 34 kota mengalami deflasi.

“Inflasi tertinggi terjadi di Mamuju sebesar 1,12%. Kita tau bahwa saudara kita di Mamuju sedang mengalami musibah bencana, gempa bumi tetapi inflasi pada Februari 2021 cenderung menurun dibandingkan posisi Januari lalu. Dimana Februari 2021 ini inflasi di Mamuju 1,12% terjadi karena adanya peningkatan harga untuk beberapa komoditas ikan yang memang banyak dikonsumsi oleh masyarakat setempat dan juga adanya kenaikan tarif angkutan udara yang memberikan andil kepada Mamuju sebesar 0,20%,” terang pria yang akrab disapa Kecuk itu.

Sebaliknya, deflasi tertinggi terjadi di Gunungsitoli sebesar 1,55%, terjadi karena adanya penurunan beberapa komoditas seperti cabe merah, ikan dan juga cawe rawit serta daging ayam ras.

Kecuk mengungkapkan, inflasi 0,10% pada Februari 2021 ini mengindikasikan bahwa sampai dengan akhir Februari 2021 ini dampak pandemi Covid-19 belum reda dan masih terus membayangi perekonomian tidak hanya di Indonesia tapi juga di berbagai negara.

“Dan tentunya perlu diwaspadai karena pandemi akan menyebabkan mobilitas yang berkurang, roda ekonomi yang bergerak lambat, berpengaruh pada pendapatan dan pada akhirnya berpengaruh pada lemahnya permintaan,” lanjutnya.

Ia merincikan bahwa menurut kelompok pengeluaran, inflasi umum dipengaruhi oleh naiknya harga cabe rawit dan ikan segar. Sebaliknya, ada beberapa komoditas yang menghambat inflasi karena mengalami penurunan harga diantaranya harga daging ayam ras, telur ayam rad dan emas perhiasan. Sementara menurut komponen volatile price yang mengalami deflasi pada inflasi Februari 2021 ini didorong oleh masih tingginya administered price.

Prabawati Sriningrum

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu