News

Dampak Kerja Perawatan Hanya Dibebankan Perempuan


Dampak Kerja Perawatan Hanya Dibebankan Perempuan
Petugas saat melakukan pemeriksaan kesehatan kepada ibu dan balita yang melakukan pengecekan di posyandu Desa Tangkil, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (4/7). Diharapkan dengan adanya pemeriksaan ibu dan anak di posyandu bisa mencegah adanya stunting dan juga untuk perbaikan gizi setiap anak yang melakukan pengecekan kesehatan serta melindungi kehamilan seorang ibu. Pertengahan tahun atau semester satu 2017 tercatat sebanyak 10.294 kasus kematian bayi. Demikian pula dengan a (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, * Karena kerja perawatan dilekatkan pada tanggung jawab perempuan, beban kerja mereka pun tinggi sekali.
* Walaupun bebannya berat, penelitian ini memperlihatkan minimnya penghargaan terhadap kerja perawatan oleh publik maupun perempuan itu sendiri.
* Riset yang dilakukan Jurnal Perempuan menyimpulkan adanya kesenjangan antara beban kerja dan renumerasi kerja perawatan IRT di Indonesia.

***

Di negeri ini, ketimpangan di sektor pekerjaan masih menjadi persoalan.

Dalam konteks kerja masih ada ketimpangan antara laki-laki dan perempuan baik dalam kesempatan maupun pendapatan, berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional 2018, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan jauh lebih rendah yakni 51,88 persen dibandingkan laki-laki 82,69 persen.

Kemudian, rata-rata upah per bulan perempuan Rp2,4 juta dan laki-laki Rp3,06 juta.

Perempuan mendominasi sektor kerja informal sebab hanya 35,05 persen perempuan bekerja di sektor formal.

Peneliti Perkumpulan Prakarsa, Herawati, menyebutkan berdasarkan data International Labor Organization tahun 2018, sebanyak 76 persen perempuan di dunia melakukan kerja perawatan yang tidak berbayar (unpaid care work).

Mengenai kerja perawatan, Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan Atnike Nova Sigiro mengatakan masyarakat, termasuk perempuan, masih menganggap sektor ini menjadi tanggung jawab perempuan, baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai anggota di dalam keluarga.

Dampak Kerja Perawatan Hanya Dibebankan Perempuan - Foto 1
Direktur Yayasan Jurnal Perempuan Atnike Nova. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Karena kerja perawatan dilekatkan pada tanggung jawab perempuan, beban kerja mereka pun tinggi sekali.

“Misalnya, ada ponakan yang tinggal di rumah atau kita punya tradisi ya, ponakan dititip ke kita yang kerjanya di rumah, kita beri makan (anak dia), tapi (kita yang bantu) tidak diberi gaji, tapi kita disuruh nyuci (baju si anak dia), disuruh ngasuh anak (dia), jaga anak (dia), bersihin rumah dan sebagainya. Nah itu adalah kerja perawatan yang tidak berbayar. Tapi tidak disebut sebagai pekerjaan.”

Akibat lainnya, kualitas sumber daya manusia perempuan menjadi lebih rendah karena akhirnya tidak memiliki pilihan untuk mengembangkan diri ataupun mengaktualisasi diri.

“Misalnya memilih apakah dia mau menjadi ibu rumah tangga atau tidak, atau ketika dia memilih ibu rumah tangga, maka dia akan merasa minder, saya bukan siapa-siapa, cuma ibu rumah tangga. Nah itu menghambat perempuan untuk mencapai aktualisasi diri yang optimal,” kata Atnike.

Perempuan akan merasa diri mereka hanya seorang ibu rumah tangga dan tidak memiliki karir lainnya.

“Padahal, pekerjaan kami itu memperjuangkan bahwa pekerjaan ibu tumah tangga adalah salah satu pekerjaan yang berharga. Nah itu adalah pandangan umum yang dimiliki bukan cuma oleh perempuan apakah dia sudah menjadi ibu rumah tangga apa belum. Tapi juga pandangan secara umum,” ujarnya.

Sayangnya dengan tanggung jawab yang begitu besar, kerja perawatan yang dilakukan ibu rumah tangga atau anggota dalam rumah tangga tidak dianggap sebagai pekerjaan produktif sehingga jarang dihargai dan dievaluasi secara ekonomi.

“Jadi kalau saya atau siapapun mengurus orang tua atau mengurus anak, itu bukan sesuatu yang spesial. Emang sudah seharusnya. Sehingga dianggap bukan satu kontribusi yang otonom, tapi sudah takdir, kodrat, dan tanggung jawab,” kata dia.

Mengapa kerja perawatan dianggap non ekonomi? Karena tidak mendapat remunerasi. Remunerasi merupakan pemberian gaji atau pendapatan tambahan kepada seorang pegawai sebagai apresiasi atas pekerjaan atau kontribusi.

“Jenis pekerjaannya saya rasa tak perlu saya jelaskan, mulai dari pengasuhan anak, orang tua, orang sakit, mencuci, membersihkan rumah, itu masuk kerja perawatan, termasuk mendidik, menemani anak belajar, mengatar anak sekolah, itu semua termasuk kerja perawatan,” tuturnya.

Memang, tak semua kerja perawatan dianggap sebagai pekerjaan non ekonomi. Sebagian sudah dianggap sebagai profesi dan menggunakan sistem penggajian, seperti pekerja sosial di rumah sakit, panti, dan penjara. Kemudian, tukang kebun dan baby sitter. Tapi, pembayaran yang mereka terima juga masih rendah sekali.

“Nah, sehingga kerja perawatan yang berbayar pun cenderung upahnya lebih rendah.
Yang kerja perawatan yang saya bahas adalah kerja perawatan yang tidak berbayar,” kata Atnike.

Jurnal Perempuan pada Agustus 2018 sudah meriset persepsi publik terhadap kerja perawatan yang dimuat dalam Jurnal Perempuan 99 Perempuan dan Kerja Perawatan.

Penelitian itu memakai metode pengumpulan data dengan survei nasional di 34 provinsi dan mengambil 2.041 dengan kategori ibu rumah tangga.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada sembilan kategori pekerjaan perawatan yang dilakukan ibu rumah tangga.

Pertama, mengurus anak (memberi makan, memandikan, menemani bermain, menidurkan). Kedua, mencuci (pakaian, seprai, saruna dan lain-lain). Ketiga, membeli keperluan rumah tangga. Keempat, memasak (belanja, menyiapkan makanan dan mencuci piring). Kelima, membersihkan rumah (menyapu, mengepel, membersihkan kamar).

Keenam, mengurus keperluan anak sekolah (termasuk antar jemput, menyiapkan alat sekolah, membantu belajar dan mempersiapkan tugas sekolah). Ketujuh, mengurus kebun atau halaman atau pekarangan rumah (menyiram, memotong rumput, membersihkan halaman).

Kedelapan, menghadiri kegiatan RT dan RW (partisipasi dalam kegiatan, panitia, dan lain-lain). Dan kesembilan, melakukan perbaikan di rumah (kerusakan yang tidak membutuhkan keahlian tertentu).

“Seperti tanaman itu kan perlu disiram, teras meski disapu, got kalau mampet harus dikorek, itu juga dilakukan oleh ibu-ibu ya,” kata Atnike.

Penelitian ini juga menemukan bahwa rata-rata lama kerja ibu rumah tangga, yakni 13,5 jam per hari, lebih besar dibandingkan survei International Labour Organization di tahun 2018 yang menyebutkan bahwa rata-rata perempuan di Asia Pasifik bekerja 7,7 jam per hari.

“Itu persepsi responden ibu rumah tangga. Jadi sebenarnya publik menyadari bahwa beban kerja ibu rumah tangga itu besar,” kata Atnike.

Walaupun bebannya berat, penelitian ini memperlihatkan minimnya penghargaan terhadap kerja perawatan oleh publik maupun perempuan itu sendiri.

Hal tersebut ditunjukkan dengan hasil survei yang menyebutkan bahwa 21 persen responden ibu rumah tangga menilai pekerjaan yang mereka lakukan layak diberikan upah 2-3 juta rupiah per bulan.

Bila dibuat rata-rata keseluruhan responden maka rata-rata upah yang diasumsikan untuk kerja perawatan ibu rumah tangga ialah Rp2 juta per bulan.

Bila pekerjaan ibu rumah tangga tersebut didistribusikan pada pembantu rumah tangga, tukang kebun, dan baby sitter, maka sesungguhnya nominal Rp2 juta tersebut masih sangat kecil sekali, bahkan lebih kecil dari rata-rata upah buruh perempuan nasional, yakni sebesar 2,2 juta rupiah.

Riset yang dilakukan Jurnal Perempuan menyimpulkan adanya kesenjangan antara beban kerja dan renumerasi kerja perawatan IRT di Indonesia.

“Beban kerja perawatan ibu rumah tangga ini diakui juga oleh responden laki-laki, maupun responden perempuan non-ibu rumah tangga,” kata Atnike.

Bagaimana feminisme memandang kerja perawatan? Menurut Atnike ada dua padangan, pertama, perempuan masuk dunia kerja merupakan bagian dari melawan sub koordinasi soal perempuan takdirnya bekerja di dalam rumah tangga. Kedua, perlunya penghargaan dan dukungan publik terhadap kerja rumah tangga.

Penghargaan terhadap kerja perawat itu intinya ada pada kebebasan perempuan untuk memilih dan dihargai apapun pilihan mereka. Dengan demikian, tidak akan ada lagi perdebatan mengenai perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena nantinya hanya akan ada di rumah.

“Nah ini menurut saya kedua-duanya tidak bisa dilakukan secara terpisah,” kata dia.

Koordinator Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga Ari Ujianto dalam Jurnal Perempuan menjelaskan bahwa isu PRT beririsan dengan identitas kelas, identitas gender, bahwa di beberapa negara identik dengan identitas ras.

Berdasarkan data ILO, di Indonesia terdapat 4,2 juta PRT. Namun dia yakin jumlah PRT lebih banyak daripada temuan ILO.

Dalam konteks kerja perawatan yang dilakukan PRT, rata-rata upah yang mereka dapatkan hanya 25 persen sampai 35 persen dari upah minimun regional. Menurutnya penghargaan terhadap kerja perawatan dan perlindungan sosial PRT masih sangat rendah.

“Meski bagi sebagian banyak orang PRT adalah pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian, namun pekerjaan PRT ini sangat identik dengan umur. Berdasarkan temuan Jala PRT mayoritas perempuan PRT berusia 20-35 tahun. Umur itu penting untuk mendapatkan pekerjaan PRT,” kata Ari. []

Baca juga: 

Tulisan 1: Ketimpangan Ekonomi: Kekayaan 2.153 Orang Kaya Setara Harta Gabungan 4,6 Miliar Penduduk Miskin Seluruh Dunia

Tulisan 2: Atasi Ketimpangan, Pemerintah Harus Serius Susun Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender

Tulisan 4: Pemerintah Jangan Cuma Pikirkan Pertumbuhan Modal