Rahmah

Dalil Al-Qur’an dan Hadis tentang Menjaga Hubungan Baik dengan Tetangga

Membuat tetangga tidak nyaman adalah pertanda belum sempurnanya keimanan


Dalil Al-Qur’an dan Hadis tentang Menjaga Hubungan Baik dengan Tetangga
Ilustrasi Al-Qur'an (AKURAT.CO/Candra Nawa)

AKURAT.CO Agama Islam mengajarkan pemeluknya agar menjalin hubungan sosial dengan baik. Salah satunya adalah dalam merawat relasi dengan tetangga. Sebagai orang yang dekat dalam keseharian, maka menjaga hubungan baik dengan tetangga sangat penting.

Berikut adalah dalil Al-Qur’an dan hadis tentang menjaga hubungan baik dengan tetangga.

Dalil Al-Qur’an

baca juga:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا.

Artinya, “Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbuat baiklah terhadap orang tua, kerabat dekat, anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36)

Sementara dalil di dalam hadis Nabi SAW tentang berbuat baik dan tidak boleh menyakiti tetangga kita baik secara verbal maupun fisik sangat banyak sekali, di antaranya adalah sebagai berikut,

Berbuat baik kepada tetangga sebagai wasiat Malaitak Jibril

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ. رواه البخاري.

Artinya, “Dari Aisyah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Jibril terus mewasiatiku perihal tetangga. Hingga saya menyangka bahwa tetangga akan menjadi ahli waris.” (H.R. Al-Bukhari)

Berhubungan intim dengan istri tetangga adalah dosa besar

 عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قُلْتُ إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ وَأَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ. رواه البخاري.

Artinya, “Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, Aku pernah bertanya kepada Nabi saw., “Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?. Beliau menjawab, “Menjadikan Allah sekutu, padahal Dia yang menciptakanmu.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena engkau takut ia akan makan bersamamu.” Aku bertanya (lagi), “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.” (HR Al-Bukhari)

Sumber: BIncangsyariah