News

Dalam KTM, Menlu RI Serukan Dukungan terhadap Perjuangan Palestina

Menlu Retno sampaikan bahwa hingga saat ini, Palestina masih menjadi satu-satunya negara yang belum mencapai kemerdekaannya. 


Dalam KTM, Menlu RI Serukan Dukungan terhadap Perjuangan Palestina
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi. (Dok. Kemlu)

AKURAT.CO, Konferensi Tingkat Menteri (KTM) Mid-Term Gerakan Non Blok (GNB) telah berlangsung secara virtual pada tanggal 13-14 Juli 2021. Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi memimpin Delegasi RI pada pertemuan tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, Menlu Retno menyampaikan bahwa GNB masih menghadapi tantangan yang sama sejak berdiri 60 tahun yang lalu.

"Yaitu isu-isu mengenai kekuatan besar dunia, ketidaksetaraan, kesenjangan, dan ketidakadilan sosial-ekonomi," kata Retno sebagaimana dikutip AKURAT.CO dari keterangan resmi di laman Kemlu RI pada Kamis (15/7/2021).

Menlu Retno mengatakan, isu-isu tersebut menjadi lebih rumit dengan adanya berbagai tantangan masa kini. Oleh karena itu, prinsip-prinsip dan nilai-nilai GNB, termasuk multilateralisme, menjadi semakin relevan.

Pada pertemuan, Menlu menyampaikan 3 (tiga) area di mana GNB dapat bersinergi dan menjadi bagian dari solusi, yaitu kemerdekaan Palestina, akses terhadap vaksin COVID-19 yang berkeadilan dan kerja sama untuk pemulihan ekonomi.

Pada kemerdekaan Palestina, Menlu Retno sampaikan bahwa hingga saat ini, Palestina masih menjadi satu-satunya negara yang belum mencapai kemerdekaannya. 

"Seluruh negara anggota GNB harus mengakui negara Palestina, mendukung peluncuran kembali negosiasi multilateral yang kredibel, dan memastikan akses kemanusiaan untuk meringankan penderitaan rakyat Palestina," paparnya.

Ia juga menegaskan bahwa GNB memiliki kekuatan dari segi ukuran dan jumlah negara anggota. Retno meyakinkan bahwa negara GNB dapat menerjemahkan kekuatan tersebut menjadi pengaruh positif bagi dunia jika negara terus bekerja sama.

Kemudian, dalam akses terhadap vaksin COVID-19, dikatakan kesenjangan vaksinasi saat ini sangat besar. 

"Sebagian besar negara maju telah menyuntikkan vaksin setara dengan 70% populasi mereka, sementara sebagian besar dari negara GNB masih di bawah 10%," katanya.

Menlu juga menyampaikan bahwa prioritas negara GNB adalah untuk memperkecil kesenjangan ini dan mempercepat vaksinasi di negara berkembang. 

"GNB dapat berkontribusi pada upaya ini dengan menyerukan lebih banyak dose-sharing, memperkuat dukungan terhadap COVAX Facility, dan mendukung TRIPS waiver negotiation," ujarnya.

Terakhir dalam pemulihan ekonomi ini GNB harus bekerja bersama untuk memastikan partisipasi dari negara-negara berkembang dalam arsitektur keuangan internasional, mengatasi praktik perdagangan yang tidak adil dan persyaratan donor, serta meningkatkan kemitraan global untuk pembangunan.

"Pandemi telah mendorong ratusan juta orang ke jurang kemiskinan dan menghambat kemajuan kita menuju SDG (pembangunan berkelanjutan)," kata dia. 

“Indonesia akan menggunakan Presidensi G20 tahun depan untuk memajukan kepentingan negara berkembang," sambungnya.[]