Ekonomi

Dahlan Iskan: Gelagat Jokowi Cabut Larangan Ekspor CPO Sudah Bisa Ditebak!

Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menilai pencabutan larangan ekspor CPO adalah keniscayaan


Dahlan Iskan: Gelagat Jokowi Cabut Larangan Ekspor CPO Sudah Bisa Ditebak!
Dahlan Iskan (Instagram/dahlaniskan19)

AKURAT.CO, Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menilai pencabutan kebijakan larangan ekspor CPO adalah keniscayaan. Bahkan Dahlan Iskan sudah seakan memprediksi bahwa dalam waktu dekat nanti larangan tersebut pasti akan segera dicabut.

Dalam tulisan khasnya yang dimuat naik oleh laman disway.id, Sabtu (21/5/2022), Dahlan Iskan menyatakan larangan ekspor CPO akan berbuntut panjang apabila diteruskan karena dapat membuat petani sawit kecewa dan sengsara serta merugikan mereka, menjadikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit tak berharga.

Menurut Dahlan Iskan, pemerintah mengizinkan ekspor kembali sebelumnya sudah ia tebak dari gelagat Jokowi yang mulai mengecek harga pasaran minyak goreng di pasar tradisional tempo hari lalu. 

baca juga:

“ Jokowi tinjau pasar. Cek minyak goreng. Dua hari lalu. Perasaan publik langsung meraba: larangan ekspor CPO pun pasti dicabut… Benar. Anda pun segera tahu. Tidak sampai 24 jam kemudian larangan ekspor CPO dicabut,” tulis Dahlan Iskan.

Mantan Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN itu lalu memaparkan bagaimana selama ini petani sawit akhirnya memanen dan menjual produk yang ditanamnya. Ia menyebutkan buah sawit harus dipanen tiap 15 hari agar tak rontok sia-sia.

Dahlan Iskan pun juga menilai pencabutan larangan tersebut harus dilakukan karena harga minya goreng sudah tidak bisa ditekan lagi ke level Rp14.000 per kilogram. Menurutnya, bila larangan tersebut masih dilanjutkan, buntutnya akan panjang dan akan terjadi kekacauan di pasar domestik.

Para petani biasanya menjual paksa sawit yang dipanen meskipun dengan harga lebih murah. Ditambah dengan kebijakan larangan ekspor CPO tersebut, harga sawit terus menurun. Kata Dahlan terakhir harga dari TBS sendiri hanya berkisar di Rp1.600/kg, dari larangan ekspor dilakukan harga TBS sendiri mencapai Rp2.400/kg. 

"Harga sekitar Rp1.600/kg itu tidak bagus lagi," ucapnya.

Menurut Dahlan Iskan, sawit yang dijual dan diekspor tergantung dari kualitas pemeliharaan dan pemupukan. Bila larangan tetap dilakukan yang kemudian ditamba dengan kenaikan harga pupuk dan harga bahan bakar minyak, bisa ditebak sendiri bila biaya pemeliharaan sawit belakangan meroket dan outputnya tidak sesuai yang diharapkan petani dan pengusaha.

"Larangan itu, kalau diterus-teruskan, buntutnya memang panjang," ujar Dahlan Iskan.[]