News

Curhat Perajin Jadah Tempe Kaliurang ke Putri Keraton: Produksi tapi Dimakan Sendiri

Curhat Perajin Jadah Tempe Kaliurang ke Putri Keraton


Curhat Perajin Jadah Tempe Kaliurang ke Putri Keraton: Produksi tapi Dimakan Sendiri
Salah satu perajin jadah tempe di Kawasan Wisata Kaliurang, Sleman, DIY, Kamis (30/7/2021). (AKURAT/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO, Para perajin jadah tempe di kawasan wisata Kaliurang Sleman, DIY, mengadukan kondisinya dalam bertahan menghadapi pandemi COVID-19 kepada Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi yang mengunjungi mereka, Kamis (29/7/2021) kemarin.

Kepada putri sulung Raja Keraton Sri Sultan Hamengku Buwono X tersebut, Ris Mulyono selaku pengurus paguyuban perajin jadah tempe Kaliurang mengaku nasibnya sangat terpuruk akibat buntut berbagai kebijakan pemerintah dan wabah COVID-19 itu sendiri.

Ris bercerita, seluruh kawasan wisata termasuk Kaliurang ditutup total semenjak berlakunya kebijakan PPKM darurat dan dilanjut PPKM level 4 kini.

"Kami memang tetap produksi jadah tempe, namun akhirnya kami makan sendiri karena tak ada yang beli, wisatawan tidak ada," kata Ris, Kamis (29/7/2021).

Jadah sendiri adalah panganan khas Kaliurang. Berbahan dasar ketan, kudapan yang cocok disantap dengan tempe bacem ini biasa jadi favorit wisatawan.

"Ini (jadah tempe) hanya awet dua hari. Daripada busuk, kalau tidak kami makan sendiri ya kami bagi bagikan ke tetangga," lanjut Ris.

Dikatakan Ris, setidaknya ada 74 orang yang tergabung dalam paguyuban perajin jadah tempe Kaliurang. Termasuk, mereka yang menjalankan usahanya dari rumah maupun berkeliling. Biasanya, mereka bisa memproduksi 5-10 kilogram jadah tempe per harinya.

Akan tetapi, kini tinggal 10 orang perajin saja yang masih berupaya mengais rejeki di tengah masa pembatasan mobilitas dan aktivitas ini. Sisanya, mencari penghasilan dari sumber lain demi bisa tetap memenuhi kebutuhan hidup masing-masing dan keluarga.

"Sekarang barang-barang kami gadaikan untuk bertahan hidup buat biaya sekolah anak dan kebutuhan sehari hari," aku Ris.

"Hidup sehari-hari di dusun kami tidak akan sampai mati kelaparan selama ada beras dan garam. Tapi, kami tidak bisa membiayai kebutuhan hidup yang lain," sambungnya.

Ris, para perajin jadah tempe, dan pelaku wisata lain di Kaliurang juga masih harap-harap cemas. Manakala nanti gerbang pariwisata dibuka kembali mereka sudah terlanjur kehabisan modal.

Dukuh Kaliurang Timur, Anggara Daniawan menambahkan, berdasarkan data yang dimilikinya saat ini ada hampir 1.000 pelaku wisata di Kaliurang terdampak pandemi COVID-19 dan berbagai kebijakan pemerintah.

Mereka terdiri dari 303 pemilik hotel dan penginapan; 400 pengemudi jip wisata; 74 perajin jadah tempe; serta 208 pengusaha warung kecil serta pengrajin cendera mata.

Dia khawatir, jika situasi pariwisata di Kaliurang tidak segera dipulihkan maka efek berantai secara ekonomi maupun sosial sangat berpotensi muncul.

"Pandemi COVID-19 sudah membuat kondisi pariwisata Kaliurang sangat terpuruk dan tambah ada PPKM sekarang ini," katanya.

Menanggapi kondisi ini, GKR Mangkubumi yang juga merupakan insiator Gerakan Kemanusiaan Republik (GKR) Indonesia itu berujar pihaknya akan membantu masyarakat terdampak sebisa mungkin.

"Sejak pandemi COVID-19 merebak, kondisi pariwisata di Kaliurang ini pun ikut lumpuh, tapi kami berharap warga tak menyerah dan kami coba membantu semaksimal mungkin," katanya.

Mangkubumi sendiri membawakan dua truk bermuatan paket bantuan untuk dibagikan ke 800 pelaku wisata Kaliurang. Saat penyerahannya, dia berujar dana desa sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai solusi situasi macam ini.

"Namun mungkin penyalurannya juga susah karena terkendala regulasi," imbuhnya.

Namun demikian, dia meminta para pelaku wisata agar tak menyerah pada keadaan. Mangkubumi menyarankan para pelaku wisata agar melakukan inovasi serta mengoptimalkan teknologi informasi untuk memasarkan produknya. 

Semisal, para perajin jadah tempe membuat produk yang lebih tahan lama agar lebih mudah dipasarkan. 

"Pandemi ini memaksa kita mengubah cara dan perilaku hidup, secara mendadak pula. Jadi kita harus bisa menyesuaikan," pungkasnya. []