Ekonomi

Cukai Naik Terus, tapi Prevalensi Perokok Meningkat Berkat Rokok Ilegal

DJBC menyatakan risiko menaikkan cukai rokok akan terus menambah peredaran rokok ilegal. Sehingga target prevalensi perokok akan sulit diturunkan.


Cukai Naik Terus, tapi Prevalensi Perokok Meningkat Berkat Rokok Ilegal
Ilustrasi Rokok (VALIDNEWS.COM )

AKURAT.CO Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) menyatakan risiko menaikkan cukai rokok akan terus menambah peredaran rokok ilegal. Sehingga target prevalensi perokok akan sulit diturunkan meski harga rokok naik.

Kepala Seksi Tarif dan Harga Dasar III Dit. Teknis dan Fasilitas Cukai, Wirmansyah Lukman mengatakan, masalah utama saat rokok terlalu mahal maka masyarakat akan mulai mencari alternatif, terutama bagi mereka yang telah adiktif atau sudah ketagihan.

"Cukai naik konsekuensi harga rokok sulit dijangkau, dan mereka yang adiktif, tak mampu beli rokok sehingga mencari alternatif lain," ucapnya, Jakarta, Selasa (13/10/2020).

Ia mencontohkan Malaysia, di mana negara tersebut telah menaikkan cukai hingga melampaui daya beli masyarakat. Akibatnya, rokok ilegal tumbuh subur di negara tersebut hingga 50 persen.

"Karena cukai tinggi tapi mereka masih mau konsumsi rokok akhirnya ilegal ini meningkat," ucapnya.

Selain tantangan rokok ilegal ada banyak aspek yang tentu merugikan dalam peningkatan cukai, seperti masalah petani dan industri. Namun, ia mengatakan DJBC tetap akan mengikuti keputusan pemerintah, jika tetap ingin menaikkan cukai demi kesehatan.

"Semua bergantung pada pemerintah ya, jika fokus kesehatan, ini bakal dinaikkan cukai setingginya ini tak masalah bagi kami. Tapi ini masyarakat tak mampu beli lagi jika tinggi, tentu pencarian alternatif rokok ilegal ini tak bisa dihindarkan," ucapnya.

Menurut data DJBC mencatat peredaran rokok ilegal naik lebih dari 10 persen dalam rentang 2014-2016. Namun pada 2018 dan 2019 angkanya menurun, semenjak upaya penegakan rokok ilegal semakin digalakkan.

Peredaran rokok ilegal juga tercermin dari ketimpangan antara jumlah konsumsi dan produksi rokok. Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018 menyatakan, jumlah konsumsi rokok rumah tangga 379,56 miliar batang. Lebih banyak dari produksi rokok tahun itu yang 348,10 miliar batang.

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu