News

Cuaca Esktrem, China Diguyur Hujan Terlebat dalam 60 Tahun

Cuaca Esktrem, China Diguyur Hujan Terlebat dalam 60 Tahun

Cuaca Esktrem, China Diguyur Hujan Terlebat dalam 60 Tahun
Petugas penyelamat mengevakuasi warga setelah hujan deras di Daerah Otonomi Guangxi Zhuang China, Jumat (17/6) (Reuters)

AKURAT.CO Beberapa bagian di China selatan, selama akhir pekan, telah diguyur hujan lebat. Peristiwa ini datang di tengah peringatan para ahli yang menyebut bahwa cuaca ekstrem menjadi lebih sering terjadi. 

Dilaporkan hujan yang melanda China adalah yang terlebat selama 60 tahun terakhir. 

Media pemerintah mengatakan bencana tanah longsor parah terjadi setidaknya di tujuh provinsi, dengan banyak jalan terendam banjir.

baca juga:

Di provinsi Guizhou di barat daya negeri misalnya, video menunjukkan sungai meluap ke jalan, menyapu mobil hingga rumah.

Biro cuaca setempat pada Sabtu (19/6) mengonfirmasi bahwa curah hujan yang terjadi di Guangxi, Guangdong, dan Fujian adalah yang tertinggi sejak 1961. Dalam periode 46 hari, dari 1 Mei hingga 15 Juni, curah hujan rata-rata di wilayah-wilayah itu adalah 621 milimeter. 

Angka itu hampir sepenuhnya mencapai total intensitas rata-rata hujan di seluruh negeri, yakni sebesar 672,1 milimeter untuk sepanjang tahun 2021, menurut Pusat Iklim Nasional.

Kata pakar cuaca, kondisi itu siap memicu badai hujan lebat lebih lanjut di selatan China dan gelombang panas di sebelah utara negara tersebut.

"Udara dingin dan hangat telah menyatu di Cina selatan, dan keduanya memasuki jalan buntu dan saling tarik menarik," terang Wang Weiyue, seorang analis di weather.com.cn, cabang dari Administrasi Meteorologi Cina, mengatakan kepada Reuters.

Diperkirakan hujan lebat akan bertahan hingga Selasa (21/6) di provinsi selatan Guizhou, Jiangxi, Anhui, Zhejiang dan Guangxi dan kemudian bergerak ke utara.

Peringatan Cuaca Ekstrem

Musim banjir tahunan China secara tradisional dimulai pada bulan Juni, dan biasanya paling parah melanda daerah pertanian padat penduduk di sepanjang Sungai Yangtze dan anak-anak sungainya.

Namun, beberapa tahun terakhir, hujan justru terjadi lebih intens dan bahkan berbahaya. Para ahli pun telah memberi peringatan, menyebut 'hal-hal lebih buruk' akan terjadi.

Pada bulan April, Pusat Iklim Nasional memperingatkan prediksi bahwa hujan lebat ekstrem akan melanda bagian selatan dan barat daya China, serta daerah gurun yang biasanya kering di Tibet selatan.

Tahun lalu, negara itu mencatat curah hujan tahunan dengan intensitas rata-rata 672,1 mm. Angka ini 6,7 persen lebih tinggi di atas normal, menurut laporan yang dirilis oleh Pusat Iklim Nasional pada Mei. 

Laporan itu juga menyimpulkan bahwa anomali cuaca China semakin parah, terutama dalam hal intensitas hujan badai selama bulan-bulan musim panas.

Rekor curah hujan yang  baru-baru ini terjadi justru muncul di tengah upaya China untuk mengatasi perubahan iklim.

Kementerian Ekologi dan Lingkungan negara itu juga telah mengumumkan strategi perubahan iklim nasional baru. Kebijakan ini disampaikan pada minggu lalu, dengan tujuan untuk ketahanan negara terhadap efek pemanasan global pada tahun 2035. 

Peta jalan tersebut lebih menekankan pada pemantauan perubahan iklim dan efek terkaitnya serta mengembangkan peringatan dini dan sitem manajemen risiko. 

Peringatan Keras

Sedikitnya 1,1 juta penduduk di provinsi Jiangxi tenggara China terkena dampak banjir dan hujan deras antara 28 Mei-11 Juni. Menurut kantor berita Xinhua, 223 ribu hektar lahan pertanian di provinsi itu juga hancur.

Pada awal Juni, hujan lebat di Cina selatan menewaskan sedikitnya 32 orang. Lebih dari 2.700 rumah rusak parah dan 96.160 hektar lahan pertanian rusak di provinsi penghasil beras Hunan.

Kemudian pada musim panas lalu, 398 orang tewas setelah banjir dahsyat melanda provinsi Henan tengah. Di antara yang tewas adalah 12 penumpang yang tenggelam di jalur kereta bawah tanah yang terendam. Dalam 'hujan sekali dalam seribu tahun itu', ibu kota provinsi Zhengzhou menjadi wilayah dengan kematian terbanyak.

Sejak saat itu, otoritas negara bagian berada dalam status siaga tinggi. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya pertanyaan tentang seberapa siapkah kota-kota China untuk cuaca ekstrem, lapor CNN. []