News

Kasus COVID-19 Meroket, Fasilitas Kesehatan DKI Mulai Menyusut

Fasilitas kesehatan di 106 rumah sakit rujukan COVID-19 di DKI Jakarta mulai menyusut setelah kasus corona di DKI kembali meledak setelah libur Lebaran


Kasus COVID-19 Meroket, Fasilitas Kesehatan DKI Mulai Menyusut
Wartawan saat mengikuti tes Swab Antigen COVID-19 gratis di Sekret PFI Pusat, Jalan Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (14/2/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Fasilitas kesehatan di 106 rumah sakit rujukan COVID-19 di DKI Jakarta mulai menyusut setelah kasus corona di Jakarta kembali meledak setelah libur Lebaran 2021. Dalam sepekan terakhir kenaikan kasus aktif tembus 50 persen.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia mengatakan saat ini pihak sedang berupaya menambah fasilitas kesehatan di seluruh rumah sakit rujukan, Dinas Kesehatan juga menambah tempat isolasi di sejumlah fasilitas milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. 

"Tentu untuk mengantisipasi kasus yang makin naik, kita akan meningkatkan lagi kapasitas isolasi dan kapasitas perawatan," kata Dwi ketika dikonfirmasi Senin (14/6/2021).

Data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, positivity rate di Jakarta meningkat dari  9 persen pada pekan lalu naik menjadi  menjadi 17 persen pada hari ini,dengan pertambahan kasus baru empat hari terakhir adalah 2.000, 2300, 2400,  2700.

Kenaikan kasus dalam empat hari itu membuat ketersediaan tempat tidur isolasi di rumah sakit mulai menyusut. Pekan lalu tingkat keterisian rumah sakit di Jakarta sebesar 45 persen, per 13 Juni kemarin sudah terisi 75 persen, dimana 27 persennya pasien yang mendapat layanan kesehatan di Jakarta merupakan warga dari luar Jakarta.

"Saat ini kita akan kembali meningkatkan kapasitas tersebut. Kenapa? supaya support system kesehatana bisa mendukung peningkatan kasusnya," tutur Dwi.

Kendati demikian Dwi tidak menjelaskan jumlah kapasitas kesehatan yang bakal ditambah pihaknya untuk menghadapi lonjakan kasus  kali ini, sebab Dinas Kesehatan juga tidak bisa mengabaikan fasilitas kesehatan untuk pasien non COVID-19. Sekarang ini  Dinkes  DKI masih dalam proses hitung-hitungan  penambahan fasilitas kesehatan ini. 

"DKI memiliki banyak rumah sakit, tetapi kapasitas kesehatan di RS ini pasti ada batasnya dan tidak mungkin didedicate untuk COVID-19 semua karena akan menelantarkan pasien yang lain, itu tidak boleh," pungakasnya.

Disisi lain Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga sedang putar otak melakukan penanganan COVID-19 di  Ibu Kota yang kembali meroket setelah libur Lebaran 2021.

Dia tidak menampik jika kasus wabah mematikan ini kembali meroket setelah Idul Fitri padahal dirinya sudah membuat sejumlah peraturan untuk menekan lonjakan kasus sebelum Lebaran, seperti melarang mudik, melarang silaturahmi tatap muka hingga melarang ziarah kubur.

Anies mengatakan, jika gagal mengantisipasi lonjakan kali ini,  maka Jakarta bakal masuk dalam kondisi gawat corona. Kondisi bisa jauh lebih parah dari ledakan kasus yang pernah terjadi pada akhir 2020 lalu

"Kita semua harus sadar, Ibu Kota dalam kondisi yang memerlukan perhatian ekstra. Bila kondisi sekarang tak terkendali, kita akan masuk fase genting," kata Anies.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itupun ancang-ancang melakukan pengetatan peraturan, salah satunya adalah kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar yang pernah dia terapkan tahun lalu

"Jika fase itu terjadi maka kita harus ambil langkah drastis seperti yang pernah dialami bulan September lalu dan Februari lalu. Kita inginkan peristiwa itu tak berulang," tuturnya.[]