News

Covid-19 Menggila, 91 Persen Tempat Tidur di 106 RS DKI Sudah Terisi Penuh

Sejumlah upaya terus dilakukan untuk memitigasi terjadinya lonjakan pasien Covid-19


Covid-19 Menggila, 91 Persen Tempat Tidur di 106 RS DKI Sudah Terisi Penuh
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti (AKURAT.CO/Yohanes Antonius)

AKURAT.CO  Jumlah keterisian tempat tidur (TT) isolasi dan ruang perawatan intensif (ICU) di fasilitas kesehatan di DKI nyaris penuh.

Dari total 106 rumah sakit (RS), total keterisian TT dan ruang perawatan intensif menunjukan kondisi RS yang makin tertekan. 

Kepala Dinas Kesehatan DKI Widyastuti mengatakan, Pemprov DKI Jakarta terus-menerus menambah kapasitas tempat isolasi di RS.

Pada awal bulan ini, kasus terkonfirmasi Covid-19 di DKI baru berada di angka 8 ribu, tetapi saat ini angkanya kian melonjak tajam.

Kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di DKI saat ini telah mencapai lebih dari 9 ribu kasus. Bila ditambah dengan ICU, lebih 10 ribu kasus terkonfirmasi. 

"Jadi artinya, mengingat keterpakaian (tempat tidur isolasi) semakin cepat sehingga perlu penambahan yang begitu cepat. Saat ini ada 90 persen keterpakaian tempat tidur Isolasi di Jakarta sedangkan ICU 81 persen," kata Widyastuti di Balaikota Jakarta, Senin (21/6/2021). 

Dia mengatakan, pihaknya memang telah menyiapkan skenario penambahan tempat tidur isolasi di RS.

Selain itu, Pemprov DKI juga telah menggandeng seluruh asosiasi RS untuk mencermati dan terus mengevaluasi perkembangan terkini Covid-19. 

"Penambahan ini kami terus lakukan evaluasi harian, mengajak semua asosiasi rumah sakit, para direktur untuk mencermati bagaimana kecepatan pengisian tadi dibarengi dengan tenaga maupun tempat-tempat yang harus dilakukan pembukaan dan penambahan," ujarnya. 

Untuk mengurangi tekanan RS akibat lonjakan pasien Covid-19, pihaknya memisahkan tingkat kegawatdaruratan pasien.

Hal ini dilakukan dengan tujuan agar tidak semua kasus Covid-19 dirawat di RS, namun bisa dialihkan sementara waktu untuk isolasi mandiri atau diarahkan ke Wisma Atlet, Kemayoran. 

"Jadi yang kita pisahkan adalah memastikan tingkat kegawatdaruratannya. Artinya semua kasus Covid-19 tidak harus berbondong-bondong ke rumah sakit (RS)," katanya. 

Dia mengatakan, diperlukan edukasi lanjutan kepada masyarakat agar tidak berbondong-bondong ke RS. Orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 tanpa mengalami gejala-gejala, kata dia, seharusnya cukup dengan mengisolasi diri di rumah masing-masing. 

"Ini yang perlu kita edukasikan ke masyarakat yang sedang kita susun lebih rinci. Pada saat terkonfirmasi positif tanpa gejala, dengan situasi Pandemi Covid-19 yang seperti ini bisa dilakukan isoman di rumah, dengan telemedicine dari nakes yang kita siapkan," katanya.

Tanpa ada penyeleksian berdasarkan tingkat kegawatdaruratan, beban RS akan semakin tinggi. Sehingga, berapapun ketersediaan tempat tidur isolasi tidak akan mencukupi kebutuhan di lapangan. 

"Sehingga berapapun kasus positif tidak akan kekejar kecepatannya dengan penambahan kapasitas RS. Jadi kami mengajak warga DKI untuk bersama-sama dengan kami penyiapan isolasi terkendali dan isolasi mandiri di lingkungan sekitar masing-masing," katanya.[]