News

COVID-19 di DKI Makin Gawat, Anies Tutup TPU

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menutup Tempat seluruh TPU.


COVID-19 di DKI Makin Gawat, Anies Tutup TPU
Kerabat dan keluarga berdoa di samping peti mati jenazah korban COVID-19 di TPU Rorotan, Jakarta, Jumat (18/6/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menutup seluruh Tempat Pemakaman Umum (TPU) untuk menghindari ziarah kubur dan kegiatan masyarakat di pemakaman.

Hal ini dilakukan Anies Baswedan setelah COVID-19 Ibu Kota kembali meledak beberapa pekan belakangan ini.

Kepala Pusat Data dan Informasi, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta Ivan Murcahyo mengatakan, penutupan TPU itu hanya untuk kegiatan ziarah kubur, sementara kegiatan pemakaman tetap diperkenankan.

"TPU untuk ziarah ditiadakan. Pemakaman masih seperti biasa," kata Ivan ketika dikonfirmasi Rabu (23/6/2021).

Ivan mengklaim penutupan TPU ini atas arahan Gubernur Anies Baswedan yang tertuang dalam Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 796 tahun 2021 tentang Perpanjangan PPKM Berbasis Mikro yang berlaku sejak 22 Juni kemarin hingga 5 Juli 2021.

"Semua taman ditutup. Itu terkait aktivitas kerumunan di ruang publik," tuturnya.

Sebagaimana diketahui Anies Baswedan kembali melakukan pengetatan untuk membendung lonajakan corona, selain menutup TPU Anies Baswedan juga menutup sejumlah tempat lainnya seperti tempat wisata dan hiburan hingga tempat ibadah pun juga ikut ditutup.

Di sisi lain Anies Baswedan memperkenankan masyarakat menggelar hajatan seperti akad atau pemberkatan serta pesta perkawinan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Selain itu, Anies Baswedan juga membatasi pergerakan masyarakat dengan menutup sejumlah ruas jalan mulai pukul 21.00 hingga 04.00 WIB. 

Berikut pembatasan yang dilakukan Anies Baswedan demi meminimalkan penularan COVID-19 di Jakarta:

Kegiatan pada tempat kerja/perkantoran Perkantoran/tempat kerja milik swasta, BUMN/BUMD:

Work From Home (WFH) sebesar 75% dan Work From Office (WFO) 25% dengan penerapan protokol kesehatan secara lebih ketat.

Perkantoran/ tempat kerja milik instansi pemerintah:

Work From Home (WFH) sebesar 75% dan Work From Office (WFO) 25% dengan penerapan protokol kesehatan secara lebih ketat.

Kegiatan pada Sektor Esensial Sektor energi, komunikasi dan IT, keuangan, logistik, perhotelan, industri, pelayanan dasar, utilitas publik dan objek vital nasional, serta tempat untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, antara lain pasar rakyat, toko swalayan, berjenis minimarket, supermarket, hypermarket, perkulakan dan toko khusus baik yang berdiri sendiri maupun yang berada di pusat perbelanjaan dan toko/ warung kelontong:

Beroperasi 100% (seratus persen) dengan pengaturan jam operasional, kapasitas, dan dengan penerapan protokol kesehatan secara lebih ketat.

Kegiatan Konstruksi

Tempat konstruksi: Beroperasi 100% (seratus persen) dengan pengaturan jam operasional, kapasitas, dan dengan penerapan protokol kesehatan secara lebih ketat.

Kegiatan Belajar Mengajar

Sekolah/Perguruan Tinggi/Akademi/ Tempat Pendidikan/Pelatihan: Dilaksanakan secara daring/online.

Kegiatan Restoran Warung makan, rumah makan, kafe, restoran, pedagang kaki lima/lapak jajanan pada lokasi binaan dan lokasi sementara:

Makan/minum di tempat paling banyak 25% (dua puluh lima persen) kapasitas pengunjung;

Dine-in sampai dengan pukul 20.00 WIB;

Dapat melayani take away/ delivery sesuai jam operasional restoran (24 jam) dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat;

Kegiatan pada Pusat Perbelanjaan/Mal

Pembatasan pengunjung 25% kapasitas dan jam operasional sampai dengan pukul 20.00 WIB dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat.

Kegiatan Peribadatan

Dilaksanakan di rumah

Kegiatan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Beroperasi 100% dengan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat.

Kegiatan pada Area Publik dan Tempat Lainnya yang Dapat Menimbulkan Kerumunan Massa

Area publik dan tempat lainnya yang dapat menimbulkan kerumunan massa ditiadakan.

Kegiatan Seni, Sosial dan Budaya

Area publik dan tempat lainnya yang dapat menimbulkan kerumunan massa ditiadakan, dan khusus kegiatan hajatan (kemasyarakatan) paling banyak 25% dari kapasitas dan tidak ada hidangan makan di tempat.

Kegiatan pada Moda Transportasi Kendaraan Umum Angkutan Massal, taksi (konvensional dan online) dan kendaraan rental:

Maksimal penumpang 50% dari kapasitas dan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat.

Ojek (online dan pangkalan)

Penumpang 100% dari kapasitas dan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat.[]