News

COVID-19 India Capai 1,5 Juta Kasus Seminggu, Oposisi Desak Pemerintah Segera Rampungkan Vaksinasi

Pada Kamis (6/4), India kembali mencetak rekor infeksi dengan 414.188 kasus. Dengan ini, total kasus baru untuk minggu ini naik menjadi 1,57 juta infeksi.


COVID-19 India Capai 1,5 Juta Kasus Seminggu, Oposisi Desak Pemerintah Segera Rampungkan Vaksinasi
Dalam foto bertanggal 6 Mei 2021 ini, seorang pria menundukkan kepala sebelum kerabatnya yang meningggal karena corona dikremasi di tepi sungai Gangga, di Garhmukteshwar, Uttar Pradesh. (REUTERS/Danish Siddiqui)

AKURAT.CO, Hanya dalam waktu seminggu, India mencatatkan kasus infeksi baru dengan angka mencapai hingga 1,5 juta kasus. Di tengah situasi memprihatinkan itu, pemimpin oposisi Rahul Gandhi dilaporkan langsung mendesak Perdana Menteri (PM) Narendra Modi untuk segera memvaksinasi warga di seluruh negeri. Gandhi juga mendesak Modi dan pemerintahannya untuk rajin melacak kasus COVID-19 demi mengekang gelombang infeksi kedua yang mematikan.

Seperti diwartakan Reuters, tuntutan Gandhi itu termuat dalam sebuah surat yang dilayangkan langsung untuk Modi pada Jumat (7/5). Di surat itulah, Gandhi juga terang-terangan mengkritik Modi. Ia bahkan menyebut bagaimana pemerintahannya telah 'angkuh' karena sempat menyatakan menang melawan COVID-19. Kini, India pun disebutkan dalam situasi 'berbahaya'.

"Kurangnya pemerintah Anda dalam menerapkan strategi COVID dan vaksinasi yang jelas dan koheren, serta keangkuhan dalam menyatakan kemenangan prematur pada saat virus menyebar cepat, telah menempatkan India pada posisi sangat berbahaya," kata Gandhi dalam surat yang ditujukan langsung untuk Modi.

Modi telah banyak dikritik karena tidak bertindak lebih cepat untuk menekan gelombang kedua. Ini terutama karena ia membiarkan diselenggarakannya festival keagamaan hingga kampanye politik yang menyedot puluhan ribu orang. Modi juga dikritik karena mencabut pembatasan sosial terlalu cepat setelah India melewati gelombang infeksi pertama. Langkah Modi juga disorot tajam setelah ia sempat menunda program vaksinasi bagi warga. Padahal, menurut para ahli, vaksinasi adalah satu-satunya harapan India untuk mengendalikan gelombang infeksi kedua.  

Menghadapi situasi serba sulit karena vaksin, tidak hanya oposisi, surat kabar akhirnya juga ikut mengkritik Modi. Agensi lokal Hindustan Times misalnya, pada Jumat ini mendesak hal serupa, yakni 'percepat vaksinasi'.

"Percepat Pemberian vaksin, kendalikan gelombang kedua pandemi..." tulis surat kabar tersebut.

Modi telah menekankan bahwa setiap negara bagian India harus menjaga laju pertumbuhan vaksinasi. Dengan programnya itu, Modi pun berhasil mendistribusikan setidaknya 157 juta dosis vaksin selama pandemi.

Namun, dalam beberapa hari terakhir, tingkat inokulasi di India justru merosot tajam. Ahli bahkan mengatakan bagaimana vaksinasi harian anjlok hampir setengah kali lebih rendah dari biasanya. Ahli juga menjelaskan bagaimana penurunan dipicu lantaran stok vaksin yang terbatas. Hal ini pun menjadi timpang lantaran selama ini, India dikenal sebagai produsen vaksin terbesar di dunia.

"Setelah mencapai tingkat (vaksinasi) sekitar 4 juta sehari, kita sekarang turun menjadi 2,5 juta per hari karena kekurangan vaksin. 

"5 juta per hari adalah batas target yang harus kita tuju, karena bahkan pada tingkat itu, akan butuh satu tahun bagi kita untuk mendapatkan dua dosis untuk setiap orang. Sayangnya, situasinya sangat suram," ungkap Amartya Lahiri, profesor ekonomi Universitas British Columbia seperti dikutip dari surat kabar Mint.

Pada Kamis (6/4), India kembali mencetak rekor infeksi dengan angka mencapai 414.188 kasus. Dengan tambahan inilah, total kasus baru untuk minggu ini naik menjadi 1,57 juta infeksi.

Sementara dalam pantauannya terkini, Worldometers mencatat total infeksi India di angka 21.491.598. Sedangkan, jumlah kematian terlihat sudah merangkak menjadi 234.083 kasus.

Namun, para pakar medis telah mengatakan bahwa tingkat COVID-19 di India sebenarnya bisa mencapai 5-10 kali lipat dari penghitungan resmi.[]

Ahada Ramadhana

https://akurat.co