News

COVID-19 dan Kudeta Picu Krisis Kelaparan di Antara Pengungsi Myanmar, Warga Makan Nasi Tanpa Lauk

Dilaporkan kini ribuan orang terlantar karena tidak bisa memperoleh makanan cukup.


COVID-19 dan Kudeta Picu Krisis Kelaparan di Antara Pengungsi Myanmar, Warga Makan Nasi Tanpa Lauk
Sekelompok petugas medis dari rumah sakit Mrauk-U datang untuk menguji orang-orang di Sin Bawkaing untuk COVID-19 dua hari setelah kasus pertama dikonfirmasi (Al Jazeera)

AKURAT.CO Kekhawatiran tumbuh atas kesejahteraan para pengungsi di negara bagian Rakhine, Myanmar yang dikurung karena karena COVID-19. Dilaporkan kini ribuan orang terlantar karena tidak bisa memperoleh makanan cukup.

Sebagaimana diwartakan Al Jazeera, Rakhine harus menjalani pengunciaan setelah pihak berwenang menemukan kasus-kasus menyebar di kamp-kamp pengungsi. Namun, dengan situasi kamp yang sudah buruk dan ditambah dengan dampak kudeta, penguncian hanya menambah derita para pengungsi. 

Salah satunya terlihat di kamp Sin Bawkaing. Kamp ini adalah rumah bagi hampir 4 ribu pengungsi internal (IDP) dan yang paling baru terkena dampak dari pandemi COVID-19 yang makin menyebar di Myanmar. Kamp Sin Bawkaing telah dikunci sejak seorang wanita didiagnosis COVID-19 pada 14 Juli yang kemudian diikuti oleh kasus infeksi lainnya. 

Win Nu (33) adalah salah satu pengungsi yang turut menceritakan susahnya bertahan hidup di kamp Sin Bawkaing.  Ibu tiga anak ini mengaku harus tinggal di sebuah kamar kecil dengan empat anggota keluarganya. Dengan ruangan yang sempit, keluarganya masih harus berupaya menjaga diri dengan tingkat penularan COVID-19 yang tinggi. 

"Ini benar-benar mengejutkan dan saya tidak tahu bagaimana untuk bertahan hidup. Virusnya dapat menyebar dengan mudah ke seluruh kamp," ujar Win Nu saat berbicara melalui sambungan telepon dengan Al Jazeera.

Kesaksian yang sama turut diungkap oleh Mra Tazaung Sayadaw, seorang biksu yang telah membantu para pengungsi dengan mengumpulkan sumbangan sejak konflik bersenjata meletus antara Tentara Arakan (AA) dan militer Myanmar pada 2018.

"Sekali seseorang terinfeksi, lebih mudah menularkan ke orang lain," kata Mra Tazaung Sayadaw.

COVID dan Kudeta Picu Krisis Kelaparan di Antara Pengungsi Myanmar, Warga Hanya Bisa Makan Nasi Tanpa Lauk - Foto 1
 Al Jazeera

AA adalah salah satu dari sekian banyak kelompok etnis bersenjata di Myanmar. AA didirikan pada tahun 2009 dan anggotanya ingin menentukan nasib sendiri bagi rakyat Rakhine. AA telah memerangi militer Myanmar selama hampir dua tahun terakhir.

Sebelum kudeta, pemerintah Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) telah meminta militer, yang dikenal sebagai Tatmadaw, untuk 'memberangus' AA. Upaya termasuk memberlakukan penutupan internet besar-besaran, menetapkan AA sebagai 'organisasi teroris', mendepaknya dari konferensi perdamaian penting, hingga memblokir bantuan kemanusiaan untuk orang-orang yang terkena dampak konflik.