News

Coba Taktik Lain, Rakyat Myanmar Lawan Penindasan Militer dengan Aksi Diam

Para penentang kekuasaan militer Myanmar melangsungkan 'aksi diam' pada Jumat (16/4) dengan tinggal di rumah sambil mengenang lebih dari 700 orang yang tewas


Coba Taktik Lain, Rakyat Myanmar Lawan Penindasan Militer dengan Aksi Diam
Demonstran antikudeta Myanmar mengacungkan simbol tiga jari dan mengenakan ikat kepala bertuliskan R2P yang berarti 'Responsibility to Protect' (Associated Press)

AKURAT.CO, Para penentang kekuasaan militer Myanmar melangsungkan 'aksi diam' pada Jumat (16/4) dengan tinggal di rumah sambil mengenang lebih dari 700 orang yang tewas dalam demonstrasi terhadap kudeta 1 Februari. Sementara itu, yang lainnya mengadakan demonstrasi kecil dengan mengenakan baju hitam di sejumlah kota besar dan kecil.

Dilansir dari Reuters, setelah kembalinya pemerintahan militer setelah 5 tahun pemerintahan sipil yang dipimpin Aung San Suu Kyi, banyak warga Myanmar turun ke jalan setiap hari. Para aktivis pun kini memikirkan cara baru untuk menunjukkan penentangan mereka saat penindasan oleh pasukan keamanan meningkat.

"Mari kita heningkan jalan. Kita harus melakukan Aksi Diam untuk menunjukkan kesedihan kita bagi para martir yang telah mengorbankan nyawa mereka. Suara paling sunyi adalah yang paling nyaring," ajak pemimpin protes Ei Thinzar Maung di laman Facebook-nya.

Jumat (16/4) merupakan hari keempat dalam 5 hari libur Tahun Baru Buddha yang dikenal sebagai Thingyan. Pada tahun ini, kebanyakan menghindari perayaan untuk fokus pada kampanye melawan para jenderal yang menggulingkan pemerintahan Suu Kyi dan mengurungnya.

Sebagian besar jalan di kota utama Yangon sepi, sementara para demonstran berbaju hitam mengadakan demonstrasi kecil di belasan kota besar dan kecil. Tak ada laporan kekerasan, tetapi 2 orang ditembak dan dibunuh di pusat kota Myingyan semalam, menurut laporan Radio Free Asia.

Militer juga telah mengumpulkan para pengkritiknya dan mengumumkan lebih dari 200 nama 'buronan' berdasarkan undang-undang yang membuat mereka ilegal untuk menyerukan pemberontakan atau melalaikan tugas di angkatan bersenjata.

Dua pengorganisir protes terkemuka ditangkap pada Kamis (15/4), bersama seorang aktor dan penyanyi yang dikenal kerap berbicara menentang kudeta. Pada malam harinya, tentara menggerebek sebuah biara Buddha terkenal di kota Mandalay dan menangkap 2 orang, menurut grup media Myanmar Now.[]

Anugrah Harist Rachmadi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu