News

Citra Satelit Pergoki Kapal Rusia Angkut Gandum Ukraina di Krimea, Diduga Hasil Curian

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh Rusia secara bertahap mencuri komoditas pangan Ukraina dan mencoba menjualnya.


Citra Satelit Pergoki Kapal Rusia Angkut Gandum Ukraina di Krimea, Diduga Hasil Curian
Kapal berbendera Rusia, Matros Pozynich, berlabuh di Sevastopol pada Kamis (19/5). (Maxar Technologies)

AKURAT.CO Aksi pencurian gandum Ukraina oleh Rusia diyakini meningkat seiring berlanjutnya perang di negara tersebut. Dugaan ini dikuatkan oleh citra satelit dari pelabuhan Sevastopol di Krimea.

Dilansir dari CNN, citra satelit memperlihatkan 2 kapal pengangkut muatan berbendera Rusia sedang berlabuh dan memuat sesuatu yang diyakini sebagai gandum curian dari Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sontak menuduh Rusia secara bertahap mencuri komoditas pangan Ukraina dan mencoba menjualnya.

Berdasarkan citra terbaru dari Maxar Technologies tertanggal 19 dan 21 Mei, kapal Matros Pozynich dan Matros Koshka berlabuh di sebelah sesuatu yang tampak seperti silo biji-bijian dengan biji-bijian mengalir dari sabuk ke palka terbuka. Kedua kapal tersebut kini telah meninggalkan pelabuhan, menurut laman pelacakan kapal MarineTraffic.com.

baca juga:

Berlayar melintasi Laut Aegea, Matros Pozynich mengeklaim tengah menuju Beirut. Sementara itu, Matros Koshka masih berada di Laut Hitam.

Citra Satelit Pergoki Kapal Rusia Angkut Gandum Ukraina di Krimea, Diduga Hasil Curian - Foto 1
Maxar Technologies

Sulit untuk memastikan apakah kapal itu sedang memuat gandum curian dari Ukraina. Namun, Krimea yang dicaplok Rusia hanya menghasilkan sedikit gandum, berbeda dari daerah Kherson dan Zaporizhzhia di Ukraina utara yang kaya akan pertanian. Menurut otoritas Ukraina dan sumber industri, pasukan Rusia di daerah pendudukan telah mengosongkan sejumlah silo dan mengangkut gandum ke selatan.

Awal bulan ini, Matros Pozynich melakukan misi serupa. Kapal itu memuat gandum dan berlayar meninggalkan Laut Hitam menuju Mediterania. Kapal itu awalnya membawa muatannya ke Mesir, tetapi ditolak dari Alexandria setelah ada peringatan dari otoritas Ukraina. Kapal itu juga dilarang masuk ke Beirut, sehingga akhirnya berlabuh di Latakia, Suriah, tempat Rusia menopang rezim Bashar al-Assad bertahun-tahun.

Pada saat yang sama, Rusia telah memblokir Ukraina untuk mengekspor barang dari pelabuhannya. Ini memicu kekhawatiran akan krisis pangan global.

"Masyarakat dunia harus membantu Ukraina membuka blokir pelabuhan. Jika tidak, krisis energi akan diikuti krisis pangan dan lebih banyak negara akan mengalaminya. Rusia telah memblokir hampir semua pelabuhan dan seluruh peluang maritim untuk mengekspor makanan, biji-bijian kami, jelai, bunga matahari, dan banyak lagi," kata Zelensky pada Sabtu (21/5).

Citra Satelit Pergoki Kapal Rusia Angkut Gandum Ukraina di Krimea, Diduga Hasil Curian - Foto 2
Maxar Technologies

Pekan lalu, CNN melaporkan bahwa Amerika Serikat (AS) dan sekutunya membahas tentang cara aman mengembangkan rute untuk mengangkut biji-bijian dari Ukraina untuk mencegah krisis pangan global. Bukti kalau Rusia mencuri gandum telah memperumit upaya ini.

Sebelum perang, pasokan gandum dari Rusia dan Ukraina menyumbang hampir 30 persen dari perdagangan global. Ukraina merupakan pengekspor jagung terbesar ke-4 di dunia sekaligus pengekspor gandum terbesar ke-5, menurut Departemen Luar Negeri AS. Setengah gandum yang dibeli Program Pangan Dunia PBB untuk memerangi kerawanan pangan global berasal dari Ukraina. Tak pelak, badan ini memperingatkan konsekuensi yang mengerikan jika pelabuhan Ukraina tak dibuka.

Kapal-kapal tersebut punya kapasitas 30 ribu ton. Awal bulan ini, Kementerian Pertahanan Ukraina memperkirakan sekitar 400 ribu ton telah dicuri dan dibawa keluar dari Ukraina sejak invasi Rusia. Menurut Menteri Kebijakan Agraria dan Pangan Ukraina Mykola Solsky, hasil curian itu dikirim secara terorganisir ke arah Krimea dan diawasi oleh para pejabat tertinggi.

Rusia mencaplok Krimea pada 2014 dan menguasai pelabuhan utama Sevastopol di Laut Hitam. Sejak invasi pada Februari, Negeri Beruang Merah mencabut akses Ukraina terhadap 2 pelabuhan utama, yaitu dengan merebut Mariupol di Laut Azov dan memblokir Odesa di Laut Hitam. Ketidakmampuan Ukraina untuk mengekspor dari pelabuhan tersebut tak hanya berdampak pada persediaan pangan di seluruh dunia, tetapi juga berdampak buruk pada perekonomian negara tersebut.

Diperkirakan ada 22 juta ton biji-bijian yang tersimpan di silo Ukraina, menurut Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pekan lalu.[]