Olahraga

China Sebut Isu Peng Shuai Dibesar-besarkan dengan Niat Jahat

IOC dituduh melakukan “pasang badan” dengan video call Peng Shuai dan Thomas Bach sehubungan dengan isu pemboikotan Olimpiade Musim Dingin 2022.


China Sebut Isu Peng Shuai Dibesar-besarkan dengan Niat Jahat
Petenis asal China, Peng Shuai, mengaku mengalami pelecehan seksual oleh mantan Wakil Presiden China, Zhang Gaoli. (TWITTER/WTA)

AKURAT.CO, Kementerian Luar Negeri China meminta isu hilangnya petenis terkemuka negara tersebut, Peng Shuai, tidak dibesar-besarkan. China menyebut bahwa isu Peng Shuai dilebih-lebihkan dengan niat jahat oleh beberapa pihak yang identitasnya tidak disebutkan secara spesifik.

“Ini bukan urusan diplomasi (antar negara),” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, sebagaimana dipetik dari The Guardian.

“Saya yakin semua orang bakal melihat dia menghadiri beberapa akitifitas publik di waktu-waktu terakhir dan juga melakukan komunikasi video (video call) dengan Presiden IOC (Komite Olimpiade Interanasional), (Thomas) Bach. Saya berharap orang-orang tertentu meredakan pembesaran berniat jahat, jangan dipolitisasi.”

Peng Shuai menjadi perhatian dunia internasional setelah ia memuat pengakuan mengalami pelecehan seksual oleh mantan Wakil Presiden China, Zhang Gaoli, awal November, di media sosial buatan China, Weibo. Unggahan tersebut kemudian hilang dan Peng Shuai juga diketahui hilang.

Keselamatan Peng Shuai menjadi pembicaraan serius dunia internasional. Petenis terkemuka seperti Serena Williams, Naomi Osaka, Roger Federer, Novak Djokovic, hingga bek Barcelona, Gerard Pique, menuntut China memberitahukan keberadaan Peng Shuai sekaligus menyelidiki kasus pelecehan seksual yang dialami sang petenis.

Pada Minggu (21/11) lalu, Peng Shuai muncul ke publik dengan melakukan komunikasi video dengan Presiden IOC, Thomas Bach. Pun demikian, hal tersebut belum cukup bagi publik tenis untuk memastikan bahwa mantan petenis ganda putri ranking satu dunia tersebut tidak berada di bawah paksaan siapapun.

Malah, IOC dituduh melakukan “pasang badan” untuk China dengan video call tersebut sehubungan dengan isu pemboikotan Olimpiade Musim Dingin 2022 yang bakal digelar di Beijing.

“Itu (komunikasi video Peng Shuai–Bach) sama sekali bukan tindakan mengamankan. Tenis harus mampu melakukan komunikasi itu (juga), seharusnya petugas keamanan yang melakukan komunikasi tersebut bukan pasang badan publisitas,” kata pengacara hak asasi manusia dan mantan perenang olimpiade asal Kanada, Nikki Dryden.

WTA (Asosiasi Tenis Putri Internasional) sendiri sempat mengancam akan menarik semua kesepakatan bisnis mereka dengan China jika negara tersebut tak bisa memastikan keselamatan dan penyelidikan kasus Peng Shuai.[]