Olahraga

"Chemistry" dan Sikap Riang telah Membawa Greysia/Apriyani ke Final

Greysia Polii/Apriyani Rahayu menjadi duet ganda putri pertama yang melaju ke final dalam sejarah olimpiade.


Duet pasangan ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, setelah memastikan tiket final Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo, Jepang, Sabtu (31/7). (BWF)

AKURAT.CO, Yang paling meyakinkan dari penampilan pasangan ganda putri bulutangkis Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, adalah “chemistry” di antara keduanya. Maklum saja, Greysia sudah tidak muda lagi dengan usia menjelang 34 tahun sementara Apriyani justru sebelas tahun lebih muda.

Di dalam dan di luar lapangan, Greysia/Apriyani tampak seperti punya perilaku yang cenderung riang alih-alih seperti kebanyakan ganda putri elite dunia yang cenderung serius karena respek terhadap pasangannya.

Selepas mereka memastikan diri melaju ke final Olimpiade Tokyo 2020 dengan mengalahkan wakil Korea Selatan, Lee So Hee/Shin Seung Chan, di semifinal di Musashino Forest Sports Plaza, Tokyo, Jepang, Sabtu (31/7), Apriyani mengaku bahwa ia pernah menghadapi Greysia yang sudah berpikir untuk pensiun.

“Saya mengucapkan terimakasih untuk Kak Ge (sapaan Greysia) yang sudah membawa saya sejauh ini. Saya sempat bilang untuk jangan berhenti dulu, bermainlah dengan saya,” kata Apriyani.

“Dari situ diyakinkan melalui motivasinya, kerja kerasnya setiap hari, ketabahannya, dan keinginannya untuk menjadi juara.”

Apriyani baru berusia 23 tahun dan kini ia sudah menorehkan sejarah sebagai finalis olimpiade. Bukan hanya untuk pribadinya sendiri namun juga untuk negaranya di mana bersama Greysia kini Apriyani menjadi ganda putri Indonesia pertama yang melaju ke final dalam sejarah olimpiade.

“Saya masih belum percaya (masuk final). Sebelum berangkat saya sempat bilang, saya tidak pernah berpikiran main di olimpiade secepat ini tapi tiba-tiba sekarang saya ada di final,” kata Apriyani.

Di partai puncak nanti, Greysia/Apriyani akan menghadapi pasangan asal China yang sebenarnya sama periangnya dengan mereka, Chen Qingchen/Jia Yifan. Apriyani mengatakan keberhasilan mereka di semifinal belum tuntas karena masih ada final yang harus mereka tempuh untuk mempertahankan tradisi emas olimpiade.

“Saya belum ingin puas dulu, kami masih bermain untuk emas,” kata Apriyani.

Masih ada satu hari untuk beristirahat bagi Greysia/Apriyani sebelum tampil menghadapi Chen/Jia yang juga sahabat mereka pada partai puncak, Senin (2/8). Kini, Greysia/Apriyani akan membawa impian ratusan juta masyarakat Indonesia di Olimpiade Tokyo.

Ya, masih ada tugas yang kami harus selesaikan. Saya belum banyak yang bisa disampaikan tapi kami memohon doa restu dan dukungan seluruh rakyat Indonesia untuk kami di final. Semoga kami memberikan yang terbaik,” kata Greysia.[]