News

Celananya Dianggap Ketat, Politisi Tanzania Diusir dari Gedung Parlemen

Celana yang dipakai Sichwale itu dianggap telah menyalahi 'kode berbusana parlemen'.


Celananya Dianggap Ketat, Politisi Tanzania Diusir dari Gedung Parlemen
Condester Sichwale diperintahkan untuk keluar dari ruangan setelah seorang anggota parlemen pria mengeluhkan soal celananya. (Twitter @Hakingkowi via BBC)

AKURAT.CO, Insiden pengusiran politisi wanita dari ruang parlemen Tanzania memicu reaksi keras dari warganet di seluruh dunia. Terlebih, politisi tersebut disuruh meninggalkan ruangan hanya karena memakai celana yang oleh anggota parlemen pria dianggap 'ketat'.

Seperti diwartakan BBC hingga Indian Express, insiden itu terjadi pada Selasa (1/6) waktu setempat. Ketika itu, seorang anggota parlemen perempuan bernama Condester Sichwale muncul di gedung Majelis Nasional dengan blouse kuning dan celana kain berwarna hitam.

Namun, oleh seorang legislator pria bernama Hussein Amar, celana yang dipakai Sichwale itu dianggap telah menyalahi 'kode berbusana parlemen'. Menurutnya, anggota parlemen wanita bisa mengenakan celana panjang di gedung, tetapi pakaian tetap tidak boleh ketat.

Saat protes itu, Amar pun sampai mengadukan pakaian yang dikenakan Sichwale kepada Ketua Parlemen Tanzania, Job Ndugai.

"Sebagai contoh, Pak Ketua, saudara perempuan saya yang duduk di sebelah kanan saya dengan baju kuning ini. Lihat celana yang dipakainya, Pak Ketua!" teriak Amar terdengar dari dalam ruangan gedung parlemen.

Menanggapi aduan itu, Ndugai kemudian meminta Sichwale untuk keluar dari ruangan parlemen. Tak lupa, Ndugai menyuruh Sichwale untuk 'berdandan dengan baik'.

"Berdandanlah dengan baik, lalu bergabunglah dengan kami kembali nanti," kata Ndugai kepada Sichwale.

Menurut Ndugai, itu bukanlah aduan pertama yang ia terima tentang pakaian anggota parlemen perempuan. Ndugai pun menegaskan kepada para pejabat untuk mencegah siapa pun yang berpakaian tidak pantas masuk ke ruangan parlemen.

Namun, keputusan Ndugai untuk mengusir Sichwale akhirnya ditentang keras oleh sekelompok anggota parlemen perempuan lain. Kelompok yang dipimpin oleh Jacqueline Ngonyani dan Stella Manyanya, mengatakan tindakan untuk Sichwale adalah hal yang tidak adil. Keduanya juga menuntut permintaan maaf parlemen untuk untuk Sichwale.

Insiden itu juga telah menuai komentar keras dari para pengguna media sosial di seluruh dunia. Dalam komentarnya, banyak yang kemudian mengatakan bahwa kasus Sichwale adalah contoh lain dari bagaimana pria mengatur cara wanita berpakaian.

"Saya benar-benar kesal dengan ini. Seperti, tak percaya. Saya benci ketika pakaian, tubuh, dan keputusan wanita diawasi oleh pria. Dan celana itu tidak ketat!! Sepertinya ketua parlemen tersebut memiliki perilaku misogini," kata seorang pengguna Twitter dengan akun @Tak_Tkk.

"Omong kosong. Benar-benar omong kosong. Celana itu tidak ketat. Dia berpakaian lengkap. Dan orang-orang harus berhenti mengawasi wanita," tulis akun @ValNgugi ikut memprotes.

"Para pemimpin Afrika mereka meninggalkan isu utama dan membicarakan sesuatu yang tidak akan menguntungkan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa tidak ada integritas di gedung parlemen itu," sambung akun @ProphetTemple.

Sementara yang lain terlihat menyindir para anggota parlemen Tanzania hingga bertanya-tanya di masa apa mereka sebetulnya hidup.

"Jika itu adalah celana ketat, saya akan meminta pengembalian dana dari semua almamater saya," cuit salah pengguna lainnya.

"Parlemen Tanzania ini hidup di abad berapa sih?," kata @piusmuhahamya.

"Anggota parlemen laki-laki itu pasti jelas hidup di Zaman Batu," tambah akun @LMinayo.[]