News

Cegah Radikalisme dan Terorisme, Polri akan Petakan Masjid

Permintaan pemetaan masjid disampaikan saat diskusi dengan sejumlah pihak beberapa waktu lalu


Cegah Radikalisme dan Terorisme, Polri akan Petakan Masjid
Ilustrasi masjid (Pixabay,com/Pintera Studio) ()

AKURAT.CO, Direktur Keamanan Negara Badan Intelijen Keamanan Polri, Brigjen Pol Umar Effendi menegaskan pihaknya akan memetakan masjid-masjid di Indonesia.

Hal ini merupakan sebuah upaya menangkal paham ekstremisme dan radikalisme.

Pernyataan itu disampaikan dalam agenda Halaqah Kebangsaan Optimalisasi Islam Wasathiyah dalam Mencegah Ekstremisme dan Terorisme yang digelar MUI.

baca juga:

Direktur Keamanan Negara Badan Intelijen Keamanan Mabes Polri Brigjen Umar Effendi mengatakan, beberapa masjid dianggap sering menjadi tempat penyebaran paham radikal. Bahkan dari data yang diperoleh, ada sebanyak 41 dari 100 masjid kantor pemerintahan di Jakarta terindikasi paham radikal.

“Masjid ini sekarang warnanya macam-macam ada yang hijau, ada yang keras, ada yang semi keras dan sebagainya. Ini jadi perhatian kita semua,” katanya dilansir dari kanal YouTube Official TVMUI, Kamis (27/1/2022).

Maka dari itu, Umar menekankan akan memetakan masjid-masjid yang ada di Indonesia. Dia menyebut permintaan pemetaan masjid itu disampaikan saat diskusi dengan sejumlah pihak beberapa waktu lalu. 

lebih lanjut, Ia mengatakan beberapa masjid dianggap sering menjadi tempat penyebaran paham radikal.

Namun, dia enggan membuka data masjid-masjid yang kedapatan menyebar paham radikalisme dan terorisme tersebut.  Hanya, dia tidak memungkiri suatu saat akan dibongkar Kepala BNPT Komjen Boy Rafly Amar atau Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Menurutnya, pengungkapan data masjid disalahgunakan itu tidak boleh terburu-buru, karena dapat memicu kegaduhan.  "Informasi itu benar (ada masjid yang disalahgunakan), tetapi tidak produktif karena bisa menimbulkan kegaduhan," ungkap Ahmad.  Umar melaporkan, sepanjang tahun 2021, Polri telah mengamankan 392 orang terduga teroris yang terlibat dalam 26 kasus tindak pidana ekstremisme dan terorisme di berbagai wilayah di Indonesia.

"Jadi kalau itu dijadikan pasukan, sudah bisa untuk 4 kompi. Ini sangat berbahaya. Bayangkan, satu kompi saja sudah maut apalagi empat," katanya.

Ia menilai media sosial punya kerawanan tinggi ketimbang media konservatif lainnya. Pasalnya, siapa saja bisa menuliskan pandangannya di media sosial, termasuk dari kelompok terorisme hingga mendapat simpati.

"Metode yang paling banyak diterapkan kelompok teroris dalam menyebarkan pahamnya adalah melalui media elektronik, lanjutnya.

"Bisa lewat chat medsos, hoaks blasting penyebaran kebencian, dan angkat isu kegagalan program pemerintah. Karena siapa saja dapat jadi penulis untuk publish apa yang diinginkan," kata Umar.

Selain itu, lanjut dia, cara-cara lama seperti acara bedah buku, diskusi dan kajian juga masih kerap dipakai. Lingkungan tempat tinggal turut menjadi faktor paham terorisme diterima sebagian kalangan.

"Bisa dari keluarga, lingkungan kerja, sekolah, aktivitas keagamaan organisasi, hobi, dan sebagainya," kata Umar. []