Ekonomi

Cegah Dominasi, Holding BUMN Pangan Harus Siap dengan Kompetisi Pasar

Peneliti Indra Setiawan meminta Holding BUMN Pangan harus bersifat terbuka dengan kompetisi pasar bebas sehingga tidak mendominasi sektor pangan domestik.


Cegah Dominasi, Holding BUMN Pangan Harus Siap dengan Kompetisi Pasar
Pedagang melayani pembeli di balik tirai plastik di Pasar Bandeng, Kota Tangerang, Banten, Selasa (12/6/2020). Pengelola Pasar Bandeng mewajibkan pedagang untuk memasang tirai plastik sebagai antisipasi penyebaran COVID-19. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Setiawan menyatakan holding BUMN pangan yang harus bersifat terbuka dengan kompetisi pasar bebas sehingga tidak mendominasi sektor pangan domestik.

"Holding BUMN pangan juga harus terbuka terhadap kompetisi pasar. Untuk itu, pemerintah perlu memberikan perlakuan yang setara antara holding BUMN ini dan pihak swasta yang hendak terlibat dalam sektor pangan dan pertanian," jelas Indra Setiawan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (19/9/2021)

Menurut dia, hal tersebut akan mendorong lebih banyak sektor swasta untuk terlibat dalam sektor pangan dan pertanian sehingga peningkatan investasi dapat terus terjadi dan berdampak positif pada peningkatan produktivitas pertanian.

Ia mengingatkan bahwa pembentukan holding yang akan mencakup seluruh rantai pasok dari hulu ke hilir tidak hanya akan berpotensi menyebabkan rendahnya kompetisi di sektor pertanian, tetapi juga berpotensi menghambat investasi yang sangat dibutuhkan sektor ini untuk meningkatkan produktivitas pangan di berbagai daerah.

"Peningkatan produktivitas pertanian Indonesia membutuhkan beberapa faktor, seperti investasi yang akan memodernisasi pertanian, peningkatan akses kepada irigasi dan peningkatan akses pada input pertanian," terangnya..

Ia memaparkan pemerintah memberikan BUMN suntikan modal, penunjukan langsung, serta kemudahan birokrasi, terutama dalam pembebasan dan akuisisi lahan. Keuntungan-keuntungan demikian tidak dapat dinikmati oleh investor swasta yang menyebabkan mereka enggan terlibat dalam proyek tersebut.

Apalagi, penguatan ketahanan pangan Indonesia memang penting mengingat ketahanan pangan Indonesia berada di peringkat 65 dari 113 negara, menurut Indeks Ketahanan Pangan Global 2020.

"Investasi di sektor pertanian Indonesia masih tergolong rendah. Investasi asing di sektor ini misalnya, hanya sebesar 3 persen-7 persen dari total Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia pada tahun 2015 hingga 2019. Sebagian besar investasi pun masuk ke sektor kelapa sawit. Sedangkan untuk sektor pertanian lainnya, seperti tanaman pangan dan hortikultura, masih jauh lebih rendah," paparnya.

Untuk itu, ia menekankan bahwa peningkatan investasi di sektor pertanian perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk pertanian Indonesia.