Olahraga

Caster Semenya: Saya Wanita, Saya Bisa Menunjukkan V****a Saya, Oke?

Caster Semenya kalah dalam bandingnya untuk membatalkan aturan soal kewajiban pengurangan kadar testoteron pada 2020.


Caster Semenya: Saya Wanita, Saya Bisa Menunjukkan V****a Saya, Oke?
Caster Semenya usai melakukan lari 2.000 meter perdananya dalam salah satu perhelatan di Montreuil, Prancis, 11 Juni lalu. (REUTERS/Philippe Wojazer)

AKURAT.CO, Pelari juara 800 meter Olimpiade 2012 dan 2016 asal Afrika Selatan, Caster Semenya, mengungkapkan bahwa ia menawarkan petugas federasi atletik untuk melihat kemaluannya untuk membuktikan bahwa ia seorang perempuan. Hal tersebut terjadi ketika ia masih berusia 18 tahun.

Ketika itu Semenya baru saja meraih juara dunia 800 meter 2009 di Berlin, Jerman, dengan selisih yang cukup jauh dengan pelari asal Kenya, Janeth Jepkosgei, yang berada di posisi kedua.

Beberapa jam sebelumnya, Federasi Asosiasi Atletik Internasional (IAAF–kini World Athletic) menyatakan bahwa Camenya harus melakukan tes verifikasi gender.

baca juga:

“Mereka pikir saya punya kemaluan laki-laki,” kata Semenya dalam wawancara dengan HBO sebagaimana dipetik dari The Guardian. “Saya bilang ke mereka: ‘Tak mengapa. Saya seorang wanita, saya tak peduli. Jika Anda ingin melihat saya seorang wanita, saya akan menunjukkan kepada Anda v****a saya. Oke?’”

Pemeriksaan gender pada 2009 menunjukkan Semenya tidak memiliki rahim dan kadar hormon testoteronnya tiga kali lebih besar ketimbang yang dimiliki kebanyakan perempuan. Kondisi Semenya dikenal dengan istilah hyeperandogenism dan federasi mewajibkannya mengonsumsi obat-obatan untuk menurunkan kadar testoteronnya.

“(Obat) tersebut membuat saya sakit, menambah berat badan saya, kepanikan, saya tidak tahu apakah saya bakal mengalami serangan jantung,” tutur Semenya.

“(Rasanya) seperti menikam tubuh sendiri dengan pisau setiap hari. Tetapi saya tidak punya pilihan. Saya 18 (tahun), saya ingin berlari, saya ingin ke olimpiade, hanya itu pilihan saya.”

Pengacara World Athletic, Jonathan Taylor, tidak setuju dengan dampak obat-obatan pengurang kadar testoteron seperti yang disampaikan oleh Semenya. “Mengapa para ahli terkemuka dunia mengatakan bahwa itu adalah apa yang mereka resepkan?” kata Taylor.

Terhadap pernyataan tersebut, Semenya menjawab dengan lebih keras. “Jonathan harus memotong lidah dan membuangnya. Jika ingin memahami bagaimana itu menyiksa saya, dia harus melakukan pengobatan itu. Dia bakal tahu,” kata Semenya.

Semenya kalah dalam pengajuan bandingnya terhadap pengadilan federal Swiss untuk membatalkan aturan soal kewajiban pengurangan kadar testoteron pada 2020. Dampaknya adalah Semenya tidak bisa turun di Olimpiade Tokyo 2020 di kategori 800 meter.[]