Olahraga

Casemiro, Pahlawan tak Terlihat dari Poros Belakang Brasil

Casemiro, Pahlawan tak Terlihat dari Poros Belakang Brasil
Gelandang Tim Nasional Brasil, Casemiro, ketika merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Swiss di Doha, Qatar, Senin (28/11). (TWITTER/FIFA)

AKURAT.CO, Ada lebih banyak kostum Tim Nasional Brasil dengan nama Neymar yang dikenakan penonton di tribun Stadion 974, Doha, Qatar, Senin (28/11). Padahal tak ada Neymar dalam pertandingan Grup G Piala Dunia Qatar 2022 antara Brasil dan Swiss tersebut.

Justru, pahlawan Brasil di malam itu adalah pemain yang kostumnya relatif jarang dikenakan penonton: Casemiro. Ya, pemain inilah yang mencetak gol kemenangan 1-0 Brasil atas Swiss ketika laga sudah menjejak ke menit ke-83.

Gol Casemiro juga bukan gol kebetulan mengingat posisinya bukan penyerang melainkan gelandang bertahan. Ia menerima umpan dari Rodrygo dan menggunakan kaki kanannya dengan tidak terlalu keras namun cukup untuk membuat Kiper Swiss, Yann Sommer, hanya bisa melongo melihat bola menusuk ke sisi kiri gawangnya.

baca juga:

Sumbangan tersebut tidak saja menempatkan Casemiro sebagai pemain paling menonjol dalam laga yang sulit tersebut tetapi juga memastikan posisi Brasil di babak 16 besar. Dan Casemiro sendiri tampaknya lebih menempatkan dirinya sebagai seorang gelandang sebagai pembantu tim untuk mendapatkan gol.

“Jelas sekali bahwa tujuan pertama saya adalah untuk mendukung tim dan membawa keseimbangan. Saya harus mendukung pemain dari belakang dan membakar (permainan) di mana pun yang memungkinkan,” kata Casemiro sebagaimana dipetik dari BBC.

Puja-puji juga datang dari rekan setim. Neymar, misalnya, mencuit dengan menyebut bahwa Casemiro adalah “gelandang terbaik di dunia sejak lama” sementara Pelatih Timnas Brasil, Tite, yang menolak berkomentar kali ini menyatakan “setuju” dengan pendapat Neymar.

Lahir di Sao Jose Dos Campos, Brasil, 23 Februari 1992, Casemiro adalah produk Sao Paulo. Bermain di klub Brasil itu sejak junior, ia hengkang ke tim cadangan Real Madrid pada 2013 dan datang di saat yang tepat ketika Madrid membutuhkan pengganti Xabi Alonso dan Sami Khedira selepas era kepelatihan Jose Mourinho.

Sembilan musim berlalu di Madrid dengan lima gelar Liga Champions, dua gelar La Liga Spanyol, dan satu Piala Raja, Casemiro hijrah ke Manchester United pada musim panas lalu.

Adapun di Piala Dunia kali ini Casemiro juga sudah menunjukkan kepantasannya sebagai pemain inti karena empat tahun lalu di Rusia ia masih menjadi pelapis Fernandinho.[]