Tech

Cara Hindari Jebakan Soceng Menurut Pakar Keamanan Siber

Soceng merupakan kejahatan siber yang memanipulasi psikologis korbannya untuk mencari informasi rahasia berupa data pribadi.


Cara Hindari Jebakan Soceng Menurut Pakar Keamanan Siber
Ilustrasi - Kejahatan siber social engineering (soceng). (Getty Images/wutwhanfoto)

AKURAT.CO Perkembangan teknologi yang kian canggih diiringi dengan munculnya berbagai kejahatan siber. Salah satu kejahatan siber yang belakangan ini tengah marak terjadi adalah soceng (social engineering).

Layaknya kejahatan lainnya, soceng tentunya meresahkan masyarakat. Sebab, kejahatan ini bisa membuat korbannya kehilangan uang dengan jumlah yang besar.

Menurut Pakar keamanan siber dari CISSReC, Pratama Persadha soceng atau rekayasa sosial merupakan kejahatan siber yang memanipulasi psikologis seseorang.

baca juga:

Dalam hal ini korbannya atau pihak lain untuk melakukan aksi atau mencari informasi rahasia berupa data pribadi seperti PIN, OTP, password, nomor kartu ATM, identitas pribadi, dan yang lainnya melalui telepon, sms, sosmed, internet, maupun aplikasi berbagi pesan seperti WhatsApp.

"Saat ini, semakin banyak orang sadar celah keamanan tidak selalu soal sistem pada web, aplikasi dan jaringan. Makin banyak yang menyadari bahwa manipulasi bisa juga dilakukan lewat korban yang minim pengetahuan IT," kata Pratama kepada Akurat.co, Selasa (28/6).

Ia juga menjelaskan, kejahatan siber yang satu ini paling banyak terjadi dalam bentuk menjebol akun dengan meminta OTP lewat SMS maupun telepon. 

"Ini merupakan praktek social engineering yang sudah sering dilakukan pelaku kejahatan dengan berbagai modus," tambahnya.

Salah satu modus soceng adalah pelaku menghubungi korban dan mengaku ada 6 digit nomor yang masuk ke ponsel korban, kemudian meminta korban menyebut nomor tersebut. Padahal, nomor tersebut adalah nomor untuk aktivasi WA di ponsel lain.

Kemudian, contoh lainnya, yaitu pelaku berpura-pura sebagai pegawai bank yang menyampaikan informasi seputar perubahan tarif transfer bank kepada korbannya. Atau tawaran untuk menjadi nasabah prioritas ke korbannya. Di mana pelaku menawarkan iklan upgrade menjadi nasabah prioritas dengan segudang rayuan promosi.