Lifestyle

Cara Franka Franklin Makarim Terapkan Nilai Profil Pelajar Pancasila pada Buah Hatinya

Franka Franklin Makarim mengaku menerapkan nilai pelajar pancasila pada ketiga buah hatinya, yang umurnya masih di bawah usia sekolah.


Cara Franka Franklin Makarim Terapkan Nilai Profil Pelajar Pancasila pada Buah Hatinya
Istri dari Mendikbudristek Nadiem Makarim sekaligus Pebisnis, Franka Franklin Makarim. (Tangkapan Layar)

AKURAT.CO Profil Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama antara lain bertakwa kepada Tuhan YME, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Nilai profil pelajar pancasila sesuai Visi dan Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sebagaimana tertuang dalam dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024.

Istri dari Menteri Pendidikan Kebudayaan dan Riset Teknologi (Mendikbudristek) sekaligus Pembisnis, Franka Franklin Makarim mengaku menerapkan nilai profil pelajar pancasila pada ketiga buah hatinya, yang umurnya di bawah usia sekolah.

baca juga:

Seperti diketahui, Nadiem Makarim dan Franka Franklin dikaruniai tiga buah hati, yang berusia sekitar 2 tahun, 3 tahun dan 5 bulan. 

"Meski anak saya masih pada kecil, berumur sekitar 2 tahun, 3 tahun dan 5 bulan. Saya dan Mas Nadiem menerapkan beberapa nilai pelajar pancasila pada mereka," ujar Franka dalam Festival Generasi Pancasila secara virtual, pada Selasa (05/7/2022).

Pertama, Franka menerapkan nilai bertakwa kepada Tuhan YME, dengan cara mendekatkan anak kepada Tuhan YME.

"Dengan cara  bagaimana Tuhan memberikan uluran Tangan pada umatnya, bagaimana kehadiran Tuhan di dunia," sambungnya.

Tak hanya mengenai konsep Tuhan. Franka juga mengejarkan kemandirian pada anak, sesuai dengan nilai pelajar pancasila.

"Misalnya, kepada anak yang lebih besar membantu membereskan barang ke dalam pack (wadah kotak), membereskan bekas makanan dan membawa sendiri tas mereka saat berpergian atau sekolah," jelas Franka. 

Untuk nilai pancasila yakni bergotong royong, Franka mengaku agak kesulitan, karena anaknya terkadang suka bertengkar karena selisih paham.

Akan tetapi, Franka memiliki cara tersendiri bagaimana menerapkan nilai ini kepada anaknya.

"Cara saya menerapkan nilai gotong royong pada anak-anak saya, yakni mengajak mereka untuk membereskan bekas makan di meja makan bersama, agar mereka bisa membaca buku kesukaan mereka setelah makan," katanya. 

Sedangkan, pada nilai berkebinekaan global, Franka mengajarkan anaknya bagaimana hidup dengan orang-orang yang berbeda-beda keyakinan dan pola pikir, baik pada teman dari sang buah hati maupun teman Franka.

"Coba ajak anak ke suatu daerah, untuk melihat keberagaman budaya Indonesia untuk mengajarkan rasa menghargai dan memahami budaya tiap daerah," tambah saran Franka.