Rahmah

Cara Bijak Menyikapi Apakah yang Keluar Mani, Wadi Atau Madzi

Menyikapi perbedaan antara mani, madi, dan wadi


Cara Bijak Menyikapi Apakah yang Keluar Mani, Wadi Atau Madzi
Ilustrasi shower untuk mandi junub setelah keluar air mani (pinterest.com)

AKURAT.CO Kadang, bagi laki-laki dewasa ketika keluar dari jalan depannya, masih membuat dirinya bingung, apakah air mani, madi, atau wadi.

Padahal ketiganya tidak sama. Air mani tidak najis dan mengharuskan mandi ketika keluar. Sedangkan air madi atau wadi najis namun tidak mewajibkan seseorang mandi besar.

Al-Bujairami memberi panduan ketika seseorang bingung memastikan apakah ia mani, madi atau wadi, sebagai berikut:

فَإِنْ اُحْتُمِلَ كَوْنُ الْخَارِجِ مَنِيًّا أَوْ غَيْرَهُ كَوَدْيٍ أَوْ مَذْيٍ تَخَيَّرَ بَيْنَهُمَا عَلَى الْمُعْتَمَدِ، فَإِنْ جَعَلَهُ مَنِيًّا اغْتَسَلَ أَوْ غَيْرَهُ تَوَضَّأَ وَغَسَلَ مَا أَصَابَهُ؛ لِأَنَّهُ إذَا أَتَى بِمُقْتَضَى أَحَدِهِمَا بَرِئَ مِنْهُ يَقِينًا، وَالْأَصْلُ بَرَاءَتُهُ مِنْ الْآخَرِ وَلَا مُعَارِضَ لَهُ، بِخِلَافِ

Artinya: “Jika diragukan bahwa yang keluar mirip mani atau selain mani seperti wadi atau madzi, maka orang yang mengeluarkan hal tersebut dipersilakan untuk mengambil kebijakan jenis cairan apa yang keluar. Demikian menurut pendapat mu’tamad. Konskuensinya, apabila ia memutuskan bahwa yang keluar adalah sperma, ia harus mandi, tapi kalau memutuskan selain sperma, ia hanya wajib wudlu dan membasuh yang terkena najis saja. Pada dasarnya, apabila seseorang sudah memutuskan salah satunya, ia menjadi bebas yang satunya lagi (Sulaiman al-Bujairimi, Hasyiyah al-Bujairimi, [Darul Fikr, 1995], juz 1, hlm. 229).

Wallahu A'lam.[]

Sumber: NU Online