News

Capai 7.500 Kasus di China, Ini Modus Penipuan Online Terkait Virus Corona


Capai 7.500 Kasus di China, Ini Modus Penipuan Online Terkait Virus Corona
Ilustrasi langkanya masker di berbagai negara akibat wabah COVID-19 (South China Morning Post)

AKURAT.CO, Penipuan online memang bukan sesuatu yang baru. Namun, kekhawatiran akan wabah COVID-19 dan langkanya masker ikut dijadikan ladang baru.

Dilansir dari South China Morning Post, jumlah permintaan masker jauh melebihi pasokan yang ada. China berpenduduk 1,4 miliar jiwa, sedangkan kapasitas produksi masker hariannya dilaporkan mencapai 22 juta saja.

Hingga 24 Februari, lebih dari 7.500 kasus penipuan terkait virus corona telah dilaporkan di China Daratan. Bahkan, angka kerugiannya mencapai lebih dari 192 juta yuan (Rp389 miliar), menurut laporan Kementerian Keamanan Publik dan perusahaan internet raksasa Tencent Holdings.

Dari seluruh kasus itu, 96,9 persen di antaranya terkait dengan masker. Tak hanya di China Daratan, modus yang sama juga dijalankan di Hong Kong. Ratusan warga pun rentan jadi korban penipuan oleh sebuah geng terorganisasi di Facebook.

Media 'The Post' telah mewawancara 6 korban yang tertipu melalui media sosial, seperti WeChat, Weibo, dan LinkedIn. Semuanya mengaku tertipu karena terlalu bernafsu membeli masker untuk keluarganya atau untuk didonasikan pada petugas medis.

"Media sosial membuat orang mengira mereka saling kenal dan bisa percaya satu sama lain. Namun, mereka cenderung abai atau lupa memverifikasi informasi pentingnya," ucap Alan Lin, pendiri gerakan sosial 'Hubei United'.

Menurut Lin, praktisnya menggunakan internet membuat jumlah penipuan membengkak dari sebelumnya. Bahkan, mereka yang biasanya berhati-hati ikut mencoba kanal-kanal tak resmi karena kondisi darurat ini.

Inilah yang terjadi pada Steve Mo, seorang manajer firma konstruksi di Changde, provinsi Hunan. Pria 44 tahun ini ingin karyawannya kembali bekerja dengan aman sehingga tergoda membeli 300 masker lewat WeChat. Namun, tak ada toko yang buka di China selama libur Imlek. Apalagi, libur ini diperpanjang untuk mengantisipasi wabah.

"Aku benar-benar ingin membeli masker di mana pun itu. Namun, saya bingung harus beli di mana," tutur Mo.

Alih-alih 300 masker yang datang, Mo hanya menerima 2 botol sabun cair, seperti korban penipuan lewat WeChat lainnya.

"Hilangnya 600 yuan (Rp1,2 juta) yang saya bayarkan bukan masalah besar bagi saya. Namun, penipuan masker skala besar seperti ini bisa dianggap sebagai masalah sosial," ungkapnya.

Tak hanya penipuan jual-beli online, para peretas juga makin merajalela di China. Mereka menggunakan 'malware' dan serangan 'phising' yang mengincar para pencari informasi virus corona.

Pusat Tanggap Darurat Virus Komputer Nasional menemukan bahwa para peretas memanfaatkan topik semacam 'virus corona baru' yang menggoda orang mengklik tautan di email dan grup WeChat. Padahal, tautan itu akan mengungkap data pribadi dan dokumen di komputer mereka.

"Itulah sadisnya peretas. Mereka tak peduli. Semakin horor subjeknya, semakin menggoda pula seseorang mengkliknya tanpa pikir panjang," terang Michael Gazeley, direktur manajer dan salah satu pendiri Network Box Corp, firma keamanan siber di Hong Kong.

Dalam modus ini, warganet akan menerima email yang tampak seperti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat. Di dalamnya, terdapat tautan daftar terkini kasus virus corona. Namun, saat diklik, mereka diarahkan ke laman baru yang harus memasukkan 'username' dan 'password'.

"Sekitar 30-35 persen warganet menggunakan data kredensial yang sama dengan laman lainnya. Jadi, password yang sudah dimasukkan akan digunakan di laman lainnya, mulai dari membobol rekening bank hingga keamanan jaringan perusahaan," sambung Gazeley. []