Rahmah

Buya Arrazy Hasyim dan Kritik Konsep Tasawufnya

“Saya difitnah membuat baiat online, saya juga difitnah melakukan baiat jual nama ruh, dan guru saya juga difitnah"


Buya Arrazy Hasyim dan Kritik Konsep Tasawufnya
Buya Arrazy Hasyim (Harakah.id)

AKURAT.CO Nama Buya Arrazy Hasyim bagi kebanyakan warganet cukup familiar, penceramah kelahiran Sumatera Barat itu begitu memahami setiap apa yang disampaikan dan mudah ditangkap pemaparannya oleh pendengar.

Ulama muda itu sempat dihebohkan dengan konsep tasawufnya terkait “ismu ruh” atau “nama ruh”. Menurut Buya Arrazy, seorang guru atau mursyid mampu menyingkap nama ruh atau dengan kasyf-nya, mereka mampu menyampaikan nama ruh manusia.

Buya Arrazy, menunjukkan referensi yang digunakannya untuk membenarkan konsep tersebut, yaitu kitab al-Ghunyah karya Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Namun, muncul kritik terhadap pemahaman Buya Arrazy Hasyim terhadap teks yang dikutipnya.

baca juga:

Berikut salinan teks dan terjemahnya,

ويلقب بألقاب يتميز بها بين أحباب الله فيدخل في خواص الله ويسمى بأسماء لا يعلمها الا الله ويطلع على أسرار تخصه

Artinya, “Dan murid itu akan mendapatkan laqab-laqab (predikat/julukan) yang dengannya ia berbeda dengan kekasih-kekasih Allah (yang lain), kemudian ia masuk dalam jajaran orang-orang khusus Allah dan diberi nama (asma) yang hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya dan ia juga akan mampu menyaksikan sir-sir yang terkhusus baginya.”

Dalam satu kesempatan kritik, seorang pegiat kajian tasawuf menyampaikan keberatannya dengan poin-poin berikut:

  1. Pemberian laqab merupakan hak prerogatif Allah, manusia atau mursyid atau guru sebagaimana dipahami sebagian orang tidak memiliki hak tersebut.
  2. Murid (istilah untuk salik dalam kitab tasawuf) juga mendapatkan nama-nama dari Allah dan hanya Allah yang mengetahuinya.
  3. Laqab berbeda dengan ismu ruh nama ruh. Bahkan andai pun dikaji secara ilmiyah, jika laqab ini diartikan ismu ruh, maka bisa masuk kategori tahrif (pemelintiran) terhadap kalam ulama’.
  4. Murid naik menjadi murad (level setelah murid dalam tasawuf) adalah dengan menunaikan ajaran syariat dan etika dalam tasawuf secara benar, bukan tiba-tiba diberi nama ruh atau masuk ajaran seseorang kemudian mendapatkan nama ruh.

Menanggapi kritik yang beredar, Buya Arrazy menganggap hal itu wajar. Sebab, ini bukan dalam ranah akidah. Percaya atau tidak, bukan masalah. Seperti dalam diskursus ilmu kalam dan fikih, pembahasan dalam tawasuf juga wajar terjadi perbedaan pendapat.

Yang dipermasalahkan Buya, isu itu menjadi bahan fitnah bagi sebagian kalangan. Dia dituduh telah membuat baiat online dan jual beli nama ruh.

“Saya difitnah membuat baiat online, saya juga difitnah melakukan baiat jual nama ruh, dan guru saya juga difitnah,” katanya seperti dikutip dalam akun Youtube, AL-BadR Channel.[]