News

Bus Rombongan Pengantin Jatuh ke Jurang di Jalur Pegunungan India, 25 Orang Tewas

Bus Rombongan Pengantin Jatuh ke Jurang di Jalur Pegunungan India, 25 Orang Tewas
Kecelakaan lalu-lintas yang fatal kerap terjadi di Uttarakhand karena terdapat sejumlah jalur pegunungan yang berbahaya. (REUTERS)

AKURAT.CO Sebuah bus yang ditumpangi rombongan tamu pernikahan keluar jalur dan jatuh ke jurang yang dalam di India utara. Akibatnya, sedikitnya 25 orang tewas.

Dilansir dari AFP, bus itu tengah melaju di sepanjang jalan raya pegunungan yang berbahaya di Distrik Paura, negara bagian Uttarakhand, pada Selasa (4/10) malam. Nahas, kendaraan itu tergelincir di tepi jurang dan jatuh di kedalaman setidaknya 500 meter bersama sekitar 45 penumpang di dalamnya.

"Sebanyak 20 orang telah diselamatkan," ungkap pejabat tinggi kepolisian negara bagian, Ashok Kumar.

baca juga:

Perdana Menteri Narendra Modi pun berjanji akan memberikan segala bantuan yang diperlukan para penyintas.

"Di momen yang tragis ini, saya berbelasungkawa terhadap keluarga yang ditinggalkan," twitnya.

Kecelakaan lalu-lintas yang fatal kerap terjadi di Uttarakhand. Negara bagian ini mencakup bagian dari Himalaya India dan banyak situs ziarah keagamaan.

Hampir 24 orang tewas pada Juni ketika bus jatuh ke ngarai dalam perjalanan ke tempat pemujaan dewa Hindu Yamuna di utara ibu kota negara bagian Dehradun.

Sementara itu, lebih dari 110 ribu orang tewas setiap tahun dalam kecelakaan lalu-lintas di seluruh India, menurut polisi. Faktor penyebabnya meliputi cara mengemudi yang sembrono, jalan yang tak terawat, dan kendaraan yang menua.

Negeri Taj Mahal juga menyumbang 11 persen dari jumlah kematian jalan global, meski jumlah kendaraannya hanya mencapai 1 persen dunia, menurut laporan Bank Dunia yang dirilis tahun lalu.

Laporan yang sama memperkirakan 150 ribu kematian kematian akibat kecelakaan mobil di India setiap tahun. Artinya, ada 1 orang tewas setiap 4 menit akibat kecelakaan mobil di India.

Selain itu, kecelakaan di jalan juga merugikan ekonomi India sekitar USD 75 miliar (Rp1,1 kuadriliun) setiap tahun. Biaya pengobatan dan hilangnya pendapatan pun mendorong banyak korban kecelakaan ke dalam jurang kemiskinan.[]