News

Buntut Tabrakan Maut Transjakarta, Dewan Minta Disiapkan Dokter di Setiap Depo

Pemeriksaan oleh dokter penting sehingga sopir tidak hanya sekedar memenuhi kewajiban mengisi form dan mengaku dalam kondisi sehat


Buntut Tabrakan Maut Transjakarta, Dewan Minta Disiapkan Dokter di Setiap Depo
Armada bus Transjakarta terparkir di kawasan Cibubur, Jakarta, Kamis (1/7/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Ketua Komisi B DPRD DKI Abdul Azis meminta PT Transportasi Jakarta (TJ) untuk memperketat pemeriksaan terhadap kondisi kesehatan awak angkutan sopir bus Transjakarta sebelum diizinkan jalan dari depo.

Pemeriksaan kesehatan tidak hanya sekedar formalitas untuk memenuhi kewajiban tetapi benar-benar untuk memastikan kesehatan dan keselamatan sopir dan penumpang.

Pernyataan politisi PKS itu merupakan buntut dari kasus tabrakan maut yang melibatkan dua bus transjakarta di Jalan MT Haryono, Senin (25/10) kemarin.

Kecelakaan mengakibatkan dua orang meninggal dunia, serta 31 lainnya mengalami luka berat dan ringan.

Azis mengatakan telah memanggil direksi PT TJ untuk meminta penjelasan terkait kejadian itu di forum rapat komisi B DPRD DKI. 

"Rekomendasi kami besok-besok sebelum sopir melakukan opersionalnya harus ada klinik chek up yang mengecek kesehatan, ngantuk atau nggak. Ada dokter yang mengontrol," katanya, Rabu (27/10/2021). 

Dengan begitu, kata dia, kondisi sepenuhnya sopir bisa diketahui. Termasuk ngantuk atau tidaknya sopir itu. Pemeriksaan oleh dokter penting sehingga sopir tidak hanya sekedar memenuhi kewajiban mengisi form dan mengaku dalam kondisi sehat. 

"Jadi kesiapaan sebelum mengoperasionalkan. Ketika ingin beroperasi, sopir dikontrol dulu. Bukan sekedar mengisi form, saya sehat. Bukan. sekalian mengecek, ini ngantuk apa enggak, tekanan darahnya normal atau tidak. Jadi bisa dicegah kalau kondisi yang memungkinkan dia sakit atau tidak," ungkapnya. 

Dia mengaku bahwa Komisi B DPRD DKI telah mengevaluasi seluruh standar operasional prosedur (SOP) dalam agenda rapat komisi dengan direksi PT TJ. Pada pertemuan itu, anggota Komisi B telah mereview kesiapan operasional bus TJ. 

"Beberapa hal kita juga review, bus umurnya berapa, apakah masih laik oprrasi, sertifikat, masih bagus, laik operasi. Tapi kita nggak bisa memutuskan sebelum ada dari kepolisian," ungkapnya. 

Dia tak ingin berspekulasi lebih jauh soal sopir bus nahas yang kemungkinan terkena serangan jantung. Dia mengatakan, kasus itu kini sedang ditangani kepolisian yang melakukan penyelidikan mendalam. DPRD, kata dia, bertugas mengawasi agar kasus serupa tidak terjadi lagi. 

"Belum sih (belum terungkap apakah sopir serangan jantung) karena masih penyelidikan, ya. Yang penting, ini tidak terjadi lagi. Kalau yang sudah terjadi kan menjadi tugas kepolisian menyelidiki, kita sebagai dewan bagaimana supaya tidak terjadi lagi, kegiatannya apa, usulan kami ada klinik di setiap depo," ungkapnya.[]