News

Buntut Protes Anti-Pemerintah, China Longgarkan Pembatasan Covid-19 di Banyak Kota, Tapi...

Buntut Protes Anti-Pemerintah, China Longgarkan Pembatasan Covid-19 di Banyak Kota, Tapi...
Seseorang memegang payung dengan slogan 'Akhiri Lockdown yang Brutal', selaa protes anti-pemerintah China, di dekat konsulat China di New York City, AS, 29 November 2022 (Reuters/David 'Dee' Delgado)

AKURAT.CO  Setidaknya selusin kota di seluruh China telah memutuskan untuk melonggarkan aturan pembatasan untuk Covid-19. Perkembangan ini terjadi sebagai buntut dari gelombang protes besar-besaran, yang belum pernah disaksikan China setidaknya sejak tragedi di Tiananmen pada 1989 silam.

Sebagaimana diwartakan Al Jazeera, Shanghai telah menjadi kota metropolis terakhir, yang akhirnya membatalkan tes Covid untuk transportasi umum. Urumqi, tempat dimana kebakaran apartemen terjadi, juga telah membuka kembali mal dan restoran untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan.

Shanghai, kota terbesar China ini sebelumnya menjadi salah satu pusat unjuk rasa, dengan massa yang geram dengan kebijakan 'nol-Covid', telah menyerukan mundurnya Presiden Xi Jinping. 

baca juga:

Pada Minggu, pihak berwenang di kota itu mengumumkan bahwa penduduk tidak lagi memerlukan hasil tes Covid negatif untuk naik transportasi umum, atau memasuki tempat-tempat luar ruangan, seperti taman dan tempat wisata.

Pelonggaran tersebut mengikuti langkah serupa yang lebih dulu dilakukan oleh Beijing, Shenzhen, Chengdu dan Tianjin, dimana semuanya telah membatalkan persyaratan pengujian untuk angkutan umum pada Sabtu.

Di ujung barat Urumqi, ibukota wilayah Xinjiang tempat protes anti-pemerintah pertama kali meletus, pihak berwenang membuka kembali resor ski dan mal. Wilayah ini juga telah mengizinkan kembali pembukaan restoran, dengan pelanggan bisa membawa makanan pulang. Pembukaan secara bertahap, sementara itu, berlaku untuk bioskop, pusat kebugaran, dan taman, dengan jumlah penggunjung yang dibatasi.

Kematian 10 orang akibat kebakaran di blok apartemen di Urumqi, telah dianggap sebagai katalis dari gelombang unjuk rasa pada November. Diketahui, kota itu telah dikunci sejak Agustus, dan pemerintah disalahkan atas jatuhnya para korban.

Di media sosial, warga beramai-ramai melancarkan protesnya, mengatakan bagaimana para korban tidak bisa menyelamatkan diri akibat pembatasan Covid. Pihak berwenang telah membantah tudingan tersebut.

Namun, protes, bagaimanapun, berhasil meletus, hingga menyebar ke lebih dari 20 kota di seluruh China. Gerakan ini menjadi pembangkangan sipil yang belum pernah terjadi sebelumnya di China daratan, sejak Xi mengambil alih kekuasaan pada tahun 2012. 

Pada hari-hari berikutnya, setidaknya 12 kota di seluruh negeri memutuskan untuk menghentikan sebagian pembatasan. Tabloid Global Times milik negara mengkonfirmasi laporan tersebut, dengan para pejabat mengatakan bahwa pelonggaran tersebut adalah bagian dari 'optimalisasi langkah pengendalian epidemi'.

Buntut Protes Anti-Pemerintah, China Longgarkan Pembatasan Covid-19 di Banyak Kota, Tapi... - Foto 1
 Seorang wanita menjalani tes swab tenggorokan untuk Covid-19 secara rutin di tempat pengujian virus corona di Beijing, China, Minggu (4/12)-Andy Wong/ AP

Namun, kemajuan ini bukan berarti bahwa China akan melakukan pembukaan sepenuhnya.

Wang Guangfa, ahli di Peking University First Hospital, mengatakan kepada Global Times bahwa pelonggaran pembatasan tidak boleh dianggap sebagai 'pembukaan total'.

"Kita telah mengoptimalkan langkah-langkah pengendalian epidemi sejalan dengan karakteristik varian virus, dengan mencapai keseimbangan baru antara pengendalian epidemi dan kegiatan sosial serta ekonomi.

"(Tapi) Sepertinya kita tidak akan keluar dari pandemi dalam waktu singkat pada musim dingin ini," kata Wang, seraya mencatat bagaimana banyak negara yang mengalami peningkatan kasus di tengah cuaca dingin.

Pelonggaran yang bervariasi

Buntut Protes Anti-Pemerintah, China Longgarkan Pembatasan Covid-19 di Banyak Kota, Tapi... - Foto 2
Seorang petugas pencegahan pandemi dengan pakaian pelindung mendekati sebuah apartemen di sebuah gedung yang dikunci karena wabah Covid-19 di Beijing, Jumat (2/12)-Reuters/Thomas Peter

Langkah-langkah untuk melonggarkan pembatasan sejauh ini masih bervariasi di berbagai kota di China.

Pada Minggu, di pusat kota Zhengzhou, pihak berwenang mengatakan warga tidak lagi wajib menunjukkan hasil tes untuk naik transportasi umum, taksi, dan mengunjungi 'tempat umum'. Namun, untuk bar karaoke, salon kecantikan, kafe internet, dan tempat indoor lainnya, penduduk harus memberikan hasil tes negatif selama setidaknya 48 jam.

Zhengzhou adalah rumah bagi pabrik iPhone terbesar di dunia, yang diguncang kerusuhan hebat bulan lalu.

Nanning, ibukota Guangxi selatan, dan Wuhan, kota pusat tempat kasus pertama virus corona muncul, juga telah membatalkan persyaratan tes negatif untuk naik metro. Kebijakan ini mulai diumumkan pada Minggu.

Sementara, di distrik Haizhu, di Guangzhou, yang mengalami bentrokan kekerasan bulan lalu, pihak berwenang telah mengizinkan orang tanpa gejala untuk tidak melakukan tes. Aturan ini berlaku bagi semua orang, kecuali mereka yang masuk dalam kelompok tertentu seperti pekerja garis depan.

Beijing pada Sabtu juga membatalkan persyaratan pendaftaran bagi orang yang ingin membeli obat demam, batuk, dan sakit tenggorokan. Pembatasan itu sebelumnya diberlakukan lantaran otoritas yakin obat itu telah dimanfaatkan warga untuk menyembunyikan infeksi Covid-nya.

Pihak berwenang di berbagai distrik di Beijing juga baru-baru ini mengumumkan bahwa pasien yang dites positif, diperbolehkan unjuk karantina di rumah.

Pada Minggu, jumlah kasus harian baru turun secara nasional menjadi 31.824. Namun, penurunan itu, kata pihak berwenang, terjadi sebagian lantaran jumlah orang yang dites telah menyusut. Hari itu, pihak berwenang juga melaporkan dua kasus kematian tambahan akibat Covid.

Vaksinasi yang jadi hambatan

Terlepas dari pelonggaran pembatasan, banyak ahli mengatakan China tidak mungkin memulai pembukaan kembali secara signifikan paling cepat sebelum Maret. Ini mengingat kebutuhan untuk meningkatkan vaksinasi, terutama di antara populasi lansia, yang masih sangat banyak.

Sembilan dari 10 orang di China telah divaksinasi. Namun, hanya 66 persen warga di atas 80 tahun yang baru menerima satu dosis suntikan, sedangkan 40 persen lainnya telah menerima booster, menurut Komisi Kesehatan Nasional. Dikatakan pula bahwa presentasi warga di atas 60 tahun yang telah divaksin mencapai 86 persen.

Karena angka-angka tersebut dan fakta bahwa hanya sedikit orang China yang membangun antibodi dengan terpapar virus, beberapa orang khawatir jutaan orang bisa mati jika pembatasan dicabut seluruhnya.

"Beberapa orang telah meragukan keamanan dan keefektifan vaksin Covid di negara ini," bunyi sebuah artikel di Harian Rakyat resmi dari Partai Komunis yang berkuasa pada Minggu.

"Para ahli mengatakan persepsi itu salah," tambah artikel tersebut, menambahkan bahwa vaksin buatan dalam negeri aman. []