News

Buntut Penggundulan Monas, Inspektorat Diminta Turun Tangan Gelar Audit


Buntut Penggundulan Monas, Inspektorat Diminta Turun Tangan Gelar Audit
Tampak dari kejauhan proyek revitalisasi kawasan Monumen Nasional (Monas) di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Minggu (19/1/2020). Revitalisasi kawasan Monas ini dilakukan dengan menebang sebanyak 190 pohon. Nantinya, revitalisasi ini akan dibangun fasilitas publik, mulai dari lokasi upacara dan parade. Selain itu, dalam proyek revitalisasi Monas itu juga akan ada tempat duduk semi teater hingga kolam air dengan teknologi pencahayaan pada malam hari. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta meminta inspektorat melakukan audit untuk mendalami penebangan ratusan batang pohon di Kawasan Monumen Nasional (Monas) sisi Selatan untuk memuluskan proyek revitalisasi yang digagas Gubernur Anies Baswedan.

Ketua Fraksi PSI DKI Jakarta, Idris Ahmad mengatakan, hingga saat ini tak ada pendataan yang jelas dari Pemprov DKI mengenai jumlah pohon yang ditebang. Untuk itu Inspektorat diminta untuk turun tangan.

“Salah satu masalahnya adalah, tidak ada pendataan pohon yang tertib. Pendataan tersebut di antaranya mencakup jenis pohon, jumlah, diameter dan tinggi,” kata Idris saat dikonfirmasi Rabu (29/1/2020).

View this post on Instagram

Pimpinan DPRD DKI Jakarta mengancam akan memperkarakan Anies ke pihak kepolisian bila nekat meneruskan revitalisasi Monumen Nasional tanpa rekomendasi dari Sekretariat Negara (Setneg). -- Sebelumnya Anies terkesan cuek dengan permintaan komisi D DPRD DKI yang meminta proyek ini diberhentikan sementara lantaran dianggap melanggar Keppres 25/1995 tentang pembangunan kawasan Medan Merdeka di Ibu Kota Jakarta. -- Pantauan AKURAT.CO Rabu (29/1/2020) semua pintu pagar di kawasan yang direvitalisasi ini dikunci rapat-rapat. Awak media tak diperkenankan masuk ke dalam area ini. -- Beberapa pekerja yang ditemui di lapangan mengaku pengerjaan diberhentikan sementara sampai waktu yang belum ditentukan. -- “Bilangnya sih hari ini enggak boleh kerja dulu. Enggak tahu besok udah mulai kerja lagi atau belum,” kata salah satu pekerja yang menolak menyebutkan namanya. -- Sementara itu beberapa pekerja lainnya terlihat duduk berkelompok di salah satu sudut di luar pagar kawasan monas sisi Selatan yang direvitalisasi ini. Mereka tampak tak mengerjakan apa-apa. -- Berbagai perlengkapan seperti alat berat serta truk pengangkut tanah galian juga terlihat tak beroperasi sebagaimana mestinya. -- Kawasan ini yang biasa bising dengan suara kendaraan alat-alat berat terdengar hening,tanda tak ada kegiatan yang dilakukan di dalam area ini. -- “Dari semalam, ekskavator dan truk udah enggak jalan. Semuanya dimatikan. Tunggu perintah baru dijalankan lagi,” kata pekerja proyek tersebut. . Naskah: Yohanes Antonius #Akuratco #BeritaTerkini #BeritaPilihan #InfoTerkini #Berita #JakartaHariIni #Monas #AniesBaswedan #Revitalisasi #RevitalisasiMonas #PemprovDKI #GubernurDKIJakarta #Jakarta #Indonesia #Trending #TrendingTopic #Viral #Instagram #InstaLike #like4likes

A post shared by AKURATCO (@akuratco) on

Menurut Idris, Pemprov DKI Jakarta sendiri memberikan keterangan yang berbeda-beda mengenai jumlah pohon yang ditebang maupun pohon yang diklaim dipindahkan untuk ditanam lagi. Lagi pula selama ini lata Idris tak ada berita acara mengenai penebangan dan pemindahan pohon tersebut.

“Apakah ada berita acara pemindahan dan penebangan pohon? Berapa jumlah pohon yang dipindahkan dan berapa yang ditebang? Angka yang disampaikan oleh UPT Monas berbeda dengan yang diungkapkan oleh Sekda. Pemprov DKI harus bisa menjelaskan secara gamblang kepada masyarakat,” tegas Idris.

Tak hanya itu, Idris juga menyorot pihak yang ditunjuk Pemprov DKI untuk melakukan penebangan pohon. Sejauh ini Dinas Kehutanan DKI Jakarta disebut-sebut melakukan eksekusi penggundulan Monas. Namun hingga kini pihak Dinas kehutanan masih enggan bicara mengenai  hal ini kepada publik.

Pertanggungjawaban pengelolaan kayu hasil penebangan pohon pun masih simpang siur. 

“Jika Dinas Kehutanan yang melakukan penebangan pohon, maka biasanya kayu dibawa ke gudang. Berapa meter kubik kayu yang dibawa ke gudang? Apakah kayu tersebut disimpan saja atau dijual?” ujarnya.

Dari ratusan pohon yang ditebang, lanjut Idris ada beberapa jenis pohon yang sangat tinggi nilai jualnya seperti pohon Mahoni, yang mencapai sekitar 3 sampai 5 juta rupiah per meter kubik.  

Apabila pohon itu dijual Idris meminta pertangungjawaban dana hasil penjualan batang pohon ini.

“Jadi, seandainya kayu-kayu tersebut dijual, apakah uangnya masuk ke kas negara? Ada banyak hal yang masih gelap,” tutupnya.[]

Ainurrahman

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu