News

Buntut Kunjungan Taiwan, UEA Serukan Kedaulatan China, 'Satu China Harus Dihormati!'

China yang dibuat emosi, sementara merespon dengan meluncurkan latihan militer skala besar


Buntut Kunjungan Taiwan, UEA Serukan Kedaulatan China, 'Satu China Harus Dihormati!'
Para demonstran memegang spanduk selama pertemuan untuk mendukung perjalanan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taipei (Ann Wang/Reuters)

AKURAT.CO, Kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat (AS) ke Taiwan tidak hanya membuat geram China, tetapi juga memantik komentar Uni Emirat Arab (UEA).

Dalam sebuah pernyataan terbaru, UEA pun langsung menegaskan kembali dukungannya kepada Beijing berserta prinsip 'Satu China'. Negara Arab itu juga telah mengatakan prihatin dengan apa yang disebutnya sebagai 'kunjungan provokatif' dan dampaknya terhadap stabilitas dan perdamaian internasional.

"UEA menegaskan dukungannya untuk kedaulatan dan integritas teritorial China, sementara juga menekankan pentingnya menghormati prinsip 'Satu China'," kata Kementerian Luar Negeri an Kerjasama Internasional UEA (MoFAIC), dalam sebuah pernyataan pada Kamis (4/8).

baca juga:

China melihat Taiwan yang diperintah secara demokratis sebagai bagian dari negaranya. Beijing juga tidak pernah menolak penggunaan kekuatan untuk membawa pulau itu di bawah kendalinya.

UEA, pada gilirannya, menyerukan untuk memprioritaskan diplomasi dan dialog dalam upaya 'memastikan stabilitas regional dan internasional'.

Pernyataan UEA datang hanya beberapa hari usai Pelosi singgah ke pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu. Selama perjalanan singkatnya itu, Pelosi pun bertemu dengan Presiden Tsai Ing-wen dan anggota parlemen Taiwan, meyakinkan mereka akan dukungan AS yang berkelanjutan.

Pelosi adalah pejabat tinggi AS yang mengunjungi Taiwan dalam beberapa dekade. Dalam lawatannya yang menyita perhatian itu, ia telah menentang serangkaian ancaman nyata dari Beijing, yang memandang Taiwan sebagai wilayahnya.

China yang dibuat emosi, sementara merespon dengan meluncurkan latihan militer skala besar dan menembakkan rentetan rudal balistik ke perairan sekitar Taiwan.

Terakhir kali China menembakkan rudal ke perairan sekitar Taiwan adalah pada tahun 1996. Langkah itu dilakukan menjelang pemilihan kembali Presiden Lee Teng-hui yang telah mengunjungi AS pada tahun sebelumnya.

AS, sementara itu, memiliki hubungan diplomatik formal dengan China. Negara ini mengikuti kebijakan 'ambiguitas strategis' di Taiwan dan terikat oleh hukum untuk menyediakan pulau berpenduduk 23 juta orang itu dengan sarana untuk mempertahankan diri. []