Lifestyle

Bun, Yuk Pahami Tentang Donor ASI dan Risikonya

Pada saat Bunda tidak dapat memberikan ASI, maka donor ASI bisa menjadi alternatif, terutama untuk bayi yang sakit atau prematur.


Bun, Yuk Pahami Tentang Donor ASI dan Risikonya
Ilustrasi - Donor ASI (Freepik)

AKURAT.CO, Air Susu Ibu (ASI) adalah nutrisi terbaik bagi bayi yang baru lahir hingga berusia enam bulan. Pada saat Bunda tidak dapat memberikan ASI, maka donor ASI bisa menjadi alternatif, terutama untuk bayi yang sakit atau prematur.

"Jika kamu tidak bisa mendapatkan ASI, hal terbaik berikutnya adalah ASI donor," kata Danelle Fisher, M.D., wakil kepala pediatri di Pusat Kesehatan Providence Saint John di Santa Monica, California, dikutip AKURAT.CO pada Senin, (1/11/2021).

Bunda bisa mendapatkan donor ASI melalui dua cara, yaitu formal (bank susu) dan informal. ASI yang didapatkan secara formal telah melewati pengawasan, mirip dengan donor darah. Donor akan disaring berdasarkan riwayat kesehatan mereka, dan ditanya tentang penggunaan obat-obatan, alkohol, maupun tembakau (rokok). Sebagai lapisan perlindungan tambahan, susu dipasteurisasi untuk membunuh sebagian besar bakteri dan virus yang mungkin ada.

baca juga:

“Program donasi susu formal memberikan transparansi kepada keluarga penerima susu donor,” kata Dr. Florencia Segura, seorang dokter anak yang mengkhususkan diri dalam pemberian makanan bayi.

ASI yang didistribusikan oleh bank susu, umumnya masuk ke rumah sakit. Ini diberikan kepada bayi prematur, yang lahir sebelum 34 minggu. Ketika bayi prematur mendapatkan ASI, baik dari ibu atau dari donor, dia akan terlindungi dari infeksi dan necrotizing enterocolitis (NEC), penyakit gastrointestinal yang dapat mematikan bagi bayi prematur.

"Bayi prematur mendapat manfaat yang signifikan dari ASI," kata Segura.

Di sisi lain, banyak pula orangtua yang mendapatkan donor ASI secara informal. Sedikit berbeda dengan bank susu, proses ini biasanya terjadi berdasarkan kepercayaan. Tidak ada skrining medis tentang donor sehingga cara ini dinilai cukup berisiko.

Hal ini disebabkan karena beberapa penyakit dapat ditularkan melalui ASI, seperti  HIV/AIDS, Hepatitis B/C, CMV, dan HTLV. Bayi bisa terpapar zat kimia dari obat-obatan yang dikonsumsi donor. Bayi juga bisa terpapar bakteri tertentu bila donor tidak memerah dan menyimpan ASI-nya dengan benar. 

“Banyak ibu beralih ke donor ASI informal, baik komunitas atau berbasis internet, karena seringkali lebih murah, lebih nyaman, dan lebih cepat,” kata Segura.

"Bahkan di antara teman dan keluarga, donasi susu informal bisa lebih berisiko karena donor tidak dapat diperiksa secara medis," imbuhnya. 

Oleh sebab itu, Bunda yang ingin mendapatkan ASI donor secara informal sebaiknya mengajukan serangkaian pertanyaan kepada donor tentang riwayat kesehatan, diet, dan penggunaan zat mereka.

Adapun Indonesia belum memiliki bank susu yang dikelola oleh negara. Akan tetapi, terdapat sejumlah yayasan yang dapat mempertemukan pendonor dengan penerima ASI, membantu proses skrining dan pasteurisasi. 

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sendiri telah menguraikan sejumlah panduan mengenai syarat donor ASI yang aman, yaitu:

  • Memiliki bayi berusia kurang dari 6 bulan
  • Sehat dan tidak mempunyai kontra indikasi menyusui
  • Produksi ASI sudah memenuhi kebutuhan bayinya dan memutuskan untuk mendonasikan ASI atas dasar produksi yang berlebih
  • Tidak menerima transfusi darah atau transplantasi organ/jaringan dalam 12 bulan terakhirTidak mengkonsumsi obat, termasuk insulin, hormon tiroid, dan produk yang bisa mempengaruhi bayi.
  • Obat/suplemen herbal harus dinilai kompatibilitasnya terhadap ASITidak ada riwayat menderita penyakit menular, seperti hepatitis, HIV, atau HTLV2
  • Tidak memiliki pasangan seksual yang berisiko terinfeksi penyakit, seperti HIV, HTLV2, hepatitis B/C (termasuk penderita hemofilia yang rutin menerima komponen darah), menggunakan obat ilegal, perokok, atau minum beralkohol.

Tak hanya itu saja, donor ASI juga sebaiknya menjalani skrining meliputi tes HIV, human T-lymphotropic virus (HTLV), sifilis, hepatitis B, hepatitis C, dan CMV, apalagi bila akan diberikan pada bayi prematur. Sebelum didonorkan, ASI harus benar-benar bebas dari virus atau bakteri dengan cara pasteurisasi atau pemanasan.

Bun, pastikan untuk berkonsultasi pada konselor laktasi tenaga kesehatan terlatih, sebelum memutuskan memberi Si Kecil ASi dari donor.[]