Lifestyle

Kasihan Si Kecil, Masih Banyak Ibu Belum Beri ASI Eksklusif

Koordinator Substansi Pengelolaan Konsumsi Gizi Direktorat Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan, Mahmud Fauzi, mengungkapkan perlu edukasi mengenai ASI


Kasihan Si Kecil, Masih Banyak Ibu Belum Beri ASI Eksklusif
Ilustrasi ibu menyusui bayi (Freepik.com)

AKURAT.CO, Koordinator Substansi Pengelolaan Konsumsi Gizi Direktorat Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan, Mahmud Fauzi, mengungkapkan bahwa betapa pentingnya seorang ibu menyusui bayi. Sebab, menyusui berpengaruh terhadap kelangsungan hidup sang anak.

"Karena rentannya seorang bayi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, maka perlindungan menjadi penting dan kita harus mewaspadai perihal penggunaan pengganti ASI yang tidak layak sehingga bagaimana pemasaran produk harus betul-betul dijaga agar tidak memberikan informasi salah pada masyarakat," ujar Mahmud melalui konferensi pers daring Perayaan Pekan Menyusui Sedunia pada kanal Youtube AIMI, pada Rabu, (28/7).

Mahmud mengatakan, edukasi mengenai pentingnya menyusui perlu terus dilakukan baik melalui konseling atau telekonseling dengan konsultan/konselor ASI. Di sisi lain, pemerintah sudah berkomitmen melindungi ibu menyusui di Indonesia, dikaitkan dengan peraturan kesehatan serta produsen dan distributor susu formula bayi atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat keberhasilkan program pemberian ASI secara eksklusif.

Di masa pandemi Covid-19 saat ini, pemerintah tetap melanjutkan komitmennya yakni dengan memprioritaskan program dan layanan menyusui, mengakhiri promosi produk pengganti ASI, inisiatif Rumah Sakit Sayang Bayi dan mengimbau semua pemangku kepentingan untuk mempromosikan serta meningkatkan akses ke layanan yang mendukung ibu agar melanjutkan praktik menyusui.

Terkait situasi praktik menyusui di Indonesia saat ini, Mahmud memaparkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 dan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 yang memperlihatkan bahwa baru separuh atau 52 persen bayi berusia di bawah 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif. Median lama pemberian ASI eksklusif hanya 3 bulan.

Mahmud menambahkan, jika dilihat dari data tersebut, berarti masih banyak ibu-ibu belum menyusui anaknya secara eksklusif, dengan rentang waktu minimal 6 bulan umur anak.

Menurut Mahmud, keberhasilan ibu bisa menyusui memerlukan dukungan semua pihak sedari ibu masih hamil sampai menyusui dan perlunya pengoptimalan implementasi kebijakan serta evaluasi terkait menyusui.

Oleh karena itu, Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), Nia Umar, mengingatkan pentingnya dukungan dari berbagai pihak agar para ibu mampu dan mau menyusui bayi mereka. Dukungan diperlukan mulai dari penyedia fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, hingga pemerintah.

"Kompetensi dan pengetahuan tenaga kesehatan terkait menyusui sangat penting agar ibu bisa terus dan mau menyusui anaknya," kata Nia, di kesempatan yang sama.[]