Ekonomi

Bulog Temukan Oknum Penggilingan Padi Yang Memainkan Harga Beras Di Saat Tidak Ada Stok

Bulog Temukan Oknum Penggilingan Padi Yang Memainkan Harga Beras Di Saat Tidak Ada Stok
Dirut Perum Bulog Budi Waseso (tengah) bersama Kepala Bulog Divre Jabar Benhur Ngkaimi (kedua kanan) memeriksa ketersediaan beras di Gudang Bulog Cisaranten Kidul Sub Divre Bandung, Jawa Barat, Selasa (3/3/2020). Dalam sidak ketersediaan beras tersebut, Dirut Perum Bulog Budi Waseso mengatakan, Perum Bulog menyediakan 1,7 juta ton beras untuk keperluan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri mendatang. (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

AKURAT.CO Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), Budi Waseso menemukan sejumlah pihak penggilingan padi nakal yang memainkan pasokan beras. Oknum penggilingan padi tersebut menaikkan harga beras, padahal stoknya tidak ada.

Temua itu didapatkannya saat melakukan pengecekan lapangan dalam upaya memenuhi target 1,2 juta ton beras hingga akhir 2022. Adapun berdasarkan surat Kementerian Pertanian (Kementan) per 29 November 2022, disebutkan ada 610.632 ton beras di penggilingan yang siap diserap Bulog.

"Mereka penggilingan ditanya, kemarin kontrak harga Rp10.200 per kg, sekarang mengapa Rp11.000 per kg," kata pria yang kerap disapa Buwas itu dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (7/12/2022).

baca juga:

Buwas mengungkapkan, sebagian pasokan beras yang disampaikan Kementan sebenarnya sudah kontrak dengan Bulog. Bahkan, ada penggilingan yang justru memainkan harga beras. 

Dalam hasil pengecekan lapangan bersama Satgas Pangan, pihaknya menemukan data penggilingan dengan jumlah pasokan berasnya berbeda dari data pada kontrak yang sudah dibuat Bulog. Tak cuma barangnya yang tak tersedia, harganya pun dinaikan.

"Yang tadinya katanya ada 30 ribu ton, padahal orang ini kontrak sama kita adanya hanya 3 ribu ton. Tapi dalam data yang diberikan ke kita, dia punya 30 ribu ton. Kontrak sama kita itu harga Rp 10.200, begitu yang 30 ribu ton, dia mintanya Rp 11.000. Begitu dicek di lapangan barangnya tidak ada," kata dia.

Adapun, dari 610.632 ton beras yang disampaikan Kementan ke Bulog, Buwas mengakui pihaknya hanya mampu menyerap sebagian kecil saja. Pun bila terus dilanjutkan pada sisa akhir tahun ini, kenaikan pasokannya pun tidak signifikan.  

"Jadi kalau saya bilang 600 ribu ton dari mana? Karena barangnya memang tidak ada. Sampai hari ini dengan kontrak kita tadi sampai Desember dengan para penggilingan datanya sama persis, itu hanya 166 ribu ton yang kita dapat. Mungkin akhir ini dapat tambahannya sedikit," jelasnya. []