News

Bukhori Yakin Kenaikan Biaya Haji 2021 Tak Akan Bebani Calon Jemaah

Bukhori Yakin Kenaikan Biaya Haji 2021 Tak Akan Bebani Calon Jemaah
Hanya 1.000 jemaah yang diizinkan menunaikan ibadah haji pada tahun lalu akibat pandemi COVID-19 (AFP)

AKURAT.CO, Anggota Komisi VIII DPR RI Bukhori Yusuf meyakinkan jika kenaikan biaya haji tidak bisa dihindarkan, salah satunya, akibat instrumen protokol kesehatan yang harus dipenuhi untuk menjamin kesehatan dan keselamatan jemaah haji.

Kendati begitu, angka kenaikan biaya haji telah berhasil ditekan dibandingkan dengan asumsi kenaikan awal sehingga diharapkan tidak terlalu membebani calon jemaah haji.

“Prokes yang ketat berdampak pada instrumen pembiayaan. Sebab itu, sejak awal Fraksi PKS meminta kenaikan biaya haji dilakukan secara rasional. Artinya, sebisa mungkin tidak terlalu memberatkan jemaah," terang Bukhori, sebagaimana yang dikutip AKURAT.CO dari keterangan tertulis, Senin (26/4/2021).

baca juga:

Di sisi lain, Bukhori juga menjelaskan, nominal kenaikan biaya tersebut juga tidak akan melampaui nominal yang mampu ditanggung oleh BPKH dari dana manfaat yang diperoleh setiap tahunnya.

Disinggung terkait persoalan vaksin bagi calon jemaah haji, Bukhori menilai bahwa persoalan itu menjadi tantangan terbesar bagi pemerintah dan memiliki dimensi yang tidak berdiri tunggal.

“Sampai tanggal 30 April ini diperkirakan semua calon jemaah haji yang berjumlah 212 ribu ini sudah menerima vaksin sebanyak 2 kali. Maka harus dipastikan para calon jemaah ini memperoleh efikasinya maksimal sebelum berangkat,” paparnya.

Sementara di satu sisi, Bukhori mengungkap, persoalan vaksin ini tidak bisa dilihat dari dimensi kesehatan semata. Ada dimensi politik, khususnya terkait meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika dan Cina.

Selain itu, Ia juga meminta pemerintah Arab Saudi bisa lebih bijaksana dalam memahami posisi Indonesia dalam hal ini.

“Kita ketahui bahwa Sinovac ini berasal dari Cina. Sementara Arab Saudi sejauh ini belum menerima calon jemaah haji yang menggunakan vaksin itu. Dengan kata lain, mereka baru berkenan menerima vaksin Made in America maupun sekutunya,” tandasnya.[]