Ekonomi

Bukan Orang Airlines, Ternyata Begini Perasaan Irfan Setiaputra Selama Memimpin Garuda


Bukan Orang Airlines, Ternyata Begini Perasaan Irfan Setiaputra Selama Memimpin Garuda
Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra saat wawancara eksklusif oleh Akurat.co di area perkantoran Gedung Garuda City Center, Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (11/8/2020). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Irfan Setiaputra, ternyata dulunya belum pernah mencicipi sama sekali bisnis di sektor penerbangan. Ini karena dirinya memang lebih banyak berkecimpung di dunia industri telekomunikasi dan pertambangan.

Kendati demikian Menteri BUMN Erick Thohir tetap menunjuk dirinya untuk menjadi nahkoda di perusahaan penerbangan kebanggaan masyarakat Indonesia ini.

Lantas bagaimana perasaan Irfan saat menjabat pertama kali untuk menjadi pimpinan di maskapai Garuda ini. Apalagi di tengah dinamika yang begitu hebat, selain banyak PR yang harus diselesaikan dirinya juga dihadapkan dengan persoalan pandemi yang memukul Industri Penerbangan.

Tim Akurat.co berkesempatan untuk berbincang-bincang santai dengan Dirut Garuda Irfan Setiaputra mengenai hal ini. Ternyata dirinya mau blak-blakan soal apa yang selama ini dirasakan semenjak dari awal menduduki kursi pucuk pimpinan Garuda.

Mari kita simak wawancara dengan Irfan Setiaputra berikut ini:

Anda kan dulu pernah memimpin beberapa perusahaan swasta, boleh diceritakan bagaimana kok bisa sampai menjadi Dirut BUMN?

Saya dulu sebenarnya pernah memimpin BUMN juga 2009 sampai 2012. Jadi hampir 10 tahun yang lalu, BUMN nya PT Inti, dan memang setelah itu saya berkarir di swasta lagi seperti sebelum saya bergabung di BUMN.

Jadi ceritanya seperti itu sih, karir saya. Dan memang pada waktu ketemu dengan Pak Erick Thohir, beliau cerita panjang lebar soal tantangan beliau, rencana-rencana beliau. Dan kemudian beliau menawarkanlah, Garuda Indonesia untuk saya pimpin.

Saya tidak tahu sebenarnya, menawarkan atau memerintahkan, tetapi kalau saya dulu seperti waktu 2009, saya masuk ke BUMN dan pegang PT Inti waktu itu, filosofi saya si sederhana saja, ini ada Menteri, pejabat tinggi negara meminta bantuan, meminta support. Saya pikir sebagai warga negara yang baik rasanya tidak pantas untuk bilang tidak.

Memang hanya saja saya sampaikan ke beliau beberapa hal yang utama, salah satunya saya bukan orang airlines, saya tidak punya pengalaman di airlines.

Bukan Orang Airlines, Ternyata Begini Perasaan Irfan Setiaputra Selama Memimpin Garuda - Foto 1
Dirut Garuda Irfan Setiaputra. AKURAT.CO/Endra Prakoso

Yang kedua saya sampaikan ke beliau, saya ingat sekali, pak Erick saya sudah tua loh, kenapa tidak dikasih yang muda-muda saja, itu sih. Jadi tua maksudnya saya sudah di atas 55 tahun waktu bertemu dengan beliau. Jadi ya saya sampaikan kenapa tidak cari yang muda saja. Jawaban beliau ya tidak bisa saya sampaikan di sini yah, gitu.

Tapi itulah yang kejadiannya sampai kemudian saya diminta mengikuti proses formal yang tentu saja memastikan, apakah memang saya pantas atau tidak kan? Ya akhirnya, kemudian jadi lah, itu sih.

Dari rekam jejak, Anda lebih banyak bergulat di perusahaan telekomunikasi dan tambang. Kemudian ketika diajak Menteri Erick untuk mengurus penerbangan, bagaimana perasaannya?

Gini kan, Garuda Indonesia itu kan sudah jadi bagian dari masyarakat Indonesia, termasuk saya. Saya kalau di domestik itu selalu bisa dibilang hampir selalu terbang dengan Garuda, kecuali rute-rute tertentu seperti ke Bandung, memang Garuda tidak ada ya. Hampir selalu saya gunakan Garuda.

Sehingga ketika diminta mengurus Garuda itu, kalau ditanya perasaan ya agak kaget saja pada waktu itu. Karena saya pikir pada waktu dipanggil itu untuk urusan yang lain, kalaupun diminta bantuannya pegang BUMN, rasanya bukan yang ini, karena saya merasa tidak punya latar belakang penerbangan.

Itu kalau ditanya perasaan si sempet kaget juga, tapi kan kita juga tidak boleh menunjukkan kekagetan yang berlebihan sampe terbengong begitu, tidak boleh juga. Jadi anda musti bersikap kaget profesional, walaupun memang saya bertanya-tanya kenapa saya ya?

Ya banyak dari pertanyaan-pertanyaan itu saya smpaikan ke beliau, tapi banyak pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya saya simpan saja. Karena kadang-kadang kan ada pada level diskusi seperti dengan pak menteri, anda tidak bisa terlalu terbuka juga, karena kita bukan duduk pada satu level yang sama gitu kan.

Dan pada waktu beliau sampaikan itu buat saya sih 90 persen perintah, walaupun beliau gunakan kata-kata yang sangat santun yang saya highly respect lah pada waktu itu. Dan tidak mungkin bisa ditolak lah waktu itu kan?

Saat Anda memimpin Garuda ini kan sudah banyak PR dari manajemen sebelumnya, apalagi datang badai Pandemi Covid-19, bagaimana menanggapi semua hal ini?

Ya yang jelas adalah begini, yang pertama anda musti memahami kalau anda lihat biodata saya, saya memang sering pindah-pindah perusahaan. Memang biasanya saya melakukan riset kecil-kecilan lah, atau tanya sana-sini untuk dapat gambaran secara kasar dululah.

Tapi dari dulu saya selalu berprinsip semuanya musti dilakukan pada waktu anda duduk, hari jam menit pertama, di situlah tugas anda mencari informasi sebanyak-banyaknya.

Garuda memang banyak sekali informasi, soal masalah-masalah sebelum saya masuk. Cuma kan banyak informasi tersebut banyaknya, adanya di medsos, dikuasai oleh segelintir mashab informasi, mengarah kemana gitu kan ya? Sementara itu kan Garuda, public company, artinya anda dengan mudah akses finansialnya dan banyak informasi-informasi yang lain.

Bukan Orang Airlines, Ternyata Begini Perasaan Irfan Setiaputra Selama Memimpin Garuda - Foto 2
Dirut Garuda Irfan Setiaputra. AKURAT.CO/Endra Prakoso

Yang ketiga saya punya banyak beberapa teman yang bisa ditanya secara personal. Jadi pada waktu masuk sini, hal-hal tersebut digabungkan, kemudian juga mengkonfirmasi informasi ke para pejabat struktural yang ada di Garuda. Sehingga saya bisa peroleh informasi yang cukup lengkap mengenai sebuah situasi kondisi maupun kira-kira apa sih yang melatarbelakangi situasinya itu semua.

Jadi memang anda harus mengerti bahwa airlines ini terlepas Garuda dengan segala macam ceritanya, saya tidak mau bilang 'masalah', tapi ceritanya, ini memang industri yang highly competitive. Garuda ambil segmen market tertentu sementara kompetitor ambil segmen market yang lain. Tapi terlepas dari segmen market apapun yang anda ambil, ini adalah industri yang sangat kompetitif, dengan margin yang sangat tipis gitukan.

Jadi dari awal saya menyadari bahwa kalau ada kesalahan di dalam melakukan decision bisnis, implikasi ke profitabilitynya sangat cepat, sangat rentan, profitabilitynya terimplikasi dari policy sangat rentan. Artinya bisa profit bisa tiba-tiba hilang profitnya, gitu kan?

Selain itu juga pada waktu itu saya juga melihat apa sih fundamental penting dari menjalankan organisasi seperti ini? Dan apa sih strength Garuda yang perlu diperkuat? Apa area-area yang perlu kita perkuat lagi, gitu kan? Nah dari situ, diskusi dan baca-bacaan segala macam, saya juga kemudian sampaikan ke beberapa teman-teman soal beberapa hal yang terus menerus kita jaga, yaitu soal safety.

Garuda ini sangat terkenal sebagai sebuah perusahaan yang mengutamakan safety. Jadi saya pada waktu itu selalu sampaikan dalam kondisi apapun, itu harus kita dahulukan. Karena itu fundamental industri ini, ketika anda seenak-enaknya dalam soal safety, soal perawatan pesawat, ya tinggal tunggu waktu saja.

Yang kedua kita kan juga sangat terkenal soal pelayanan kita. Tapi saya kemudian gunakan istilah yang lebih pas menurut saya, marilah kita fokus ke pelayanan yang bermartabat, dan barulah kita ngomong profitability.

Jadi 3 area itulah yg kota managemen baru garap sama diskusikan, kemudian ambil langkah-langkah jangka pendek maupun panjang yang kita rasa perlu pada waktu kita putuskan.

Memang akhirnya pandemi ini muncul gitu kan? Pada waktu awalnya muncul, ya kita melihat bahwa apa mungkin masuk Indonesia ya? Ya kan. Tapi memang magnitude dari problemnya itu kita juga cukup kaget dan memang kekagetan utama yang muncul di kami, di Garuda ini adalah ketika pemerintah Saudi Arabia melarang umrah. Kita di situ baru realize oh, ini impactnya besar sekali ke kita.

Tapi even pada waktu umrah ditutup, domestik kita seperti tidak ada apa-apa, masih jalan, dan masih padat. Orang di Indonesia masih everything is oke gitu kan? Kita saling percaya tidak ada masalah apa-apa.

Karena memang ketika berkembangnya waktu, dan ketika Presiden Jokowi mengumumkan munculnya penderita Covid-19 pertama di Indonesia, di situlah semuanya berubah gitu kan? Dan memang akhirnya kita, airlines terkena impact yang langsung.

Dengan dinamika yang luar biasa memimpin Garuda Indonesia, bagaimana caranya Anda mengelola stress?

Enggak lah, saya tidak terlalu seneng dengan statement begitu, karena ini sebenarnya buat balancing aja lah. Dan kalau hari ini misalnya dalam kondisi tertekan, stres, kan itu bagian kewajiban saya. Kalau tidak mau tertekan ya saya bisa tinggalkan saja, tapi kan tidak bisa seenaknya begitu.

Ketika anda mengatakan bersedia ambil posisi ini, came along, kan habis itu tanggung jawab dan kewajiban, selain hak ya. Ya dinikmati saja.

Kegiatan refreshingnya apa sih, boleh diceritakan?

Ya kadang-kadang begini ini refreshing (diskusi dengan media), ini juga kadang-kadang ya banyak yang katakan ya kalau saya Sabtu dan Minggu tidur-tiduran, main sama cucu, ini segala macam. Tapi apakah itu refreshing ketika main sama cucu terus ada wa, gitu kan? Ya ga refreshing juga jatuhnya. Karena tanggung jawab dan kewajiban itu 24 jam gitu kan, selama 7 hari. 

Jadi ya akhirnya kalau anda tanya gimana caranya lepas stres ya kalau menurut saya ya semaksimal mungkin nikmati aja.

Ya saya beruntung punya tim yang cukup solid di sini, ada masalah apa ya kita omongin, insyaAllah tidak ada politik di antara direksi. Dan banyak hal kita lakukan bersama-sama, sambil bercanda-canda walaupun masalahnya serius, gitu kan. Ya ini bagian dari upaya tanggung jawab kewajiban dijalankan tapi jangan sampai merusak diri masing-masing.

Anggota keluarga tidak pernah protes, kalau kerja terus selama 24 jam dalam 7 hari?

Ya, Alhamdulillah saya punya keluarga yang sangat mengerti, atau bisa dibilang ga peduli ya, ga juga sih ya becanda. Tapi saya sudah terbiasa begini, kami sudah banyak kesepakatan, meski sering dilanggar tapi ya Alhamdulillah keluarga saya mengerti bahwa kadang-kadang memang tanggung jawab dan kewajiban itu tidak bisa dikompromikan gitu kan, ketika anda ambil posisi ini ya came along.

Ya, kadang-kadang orang rumah ngomel, merasa tersisihkan, ya pasti, tapi setelah kita ajak diskusi, ya akhirnya bisa mengerti juga. Bahwa tanggung jawab ini kan mendahului semuanya. Apalagi ketika anda putuskan ambil dan terima itu.

Bukan Orang Airlines, Ternyata Begini Perasaan Irfan Setiaputra Selama Memimpin Garuda - Foto 3
Dirut Garuda Irfan Setiaputra. AKURAT.CO/Endra Prakoso

Kalau boleh cerita hobinya apa, apalagi sekarang kan ramai soal hobi gowes?

Tidak ada yang khusus kalau hobi, dulu banyak aneh-aneh, tapi ya, seperti diajak gowesan. Sekarang masalah di semua orang laki-laki saat ini kan ada 3, harta, tahta, dan, sepeda. Saya berulang kali diajak gowesan, tapi saya garuk-garuk kepala gitu, kenapa harus sepedaan?

Dulu wktu SMP saya sudah naik sepeda, dan kalau lihat orang naik motor dan mobil, kok enak juga ini orang tidak berkeringat ke sekolah, diantar supir, keluar wangi, sementara kita sudah berpeluh gitu kan. Saya dalam hati, saya suatu hari musti punya mobil nih, sekarang saya punya mobil, jadi ngapain terus naik sepeda lagi gitu kan, karena kadang-kadang saya tidak mengerti juga, tapi ya sudahlah saya jadi tidak bisa ikutan. Karena akhirnya kalau saya paksakan, saya tidak menikmati juga.

Ada makanan favorit atau penglaman makan di Garuda?

Apa saja sih sebenarynya yang penting halal. Otak (masakan padang) juga boleh, ya padang gitu paling. Dan saya selalu bicara sama banyak orang yang misalnya ke Eropa lah, kan kita ada penerbangan Jakarta-Amsterdam, kalau anda ke Eropa seminggu atau dua minggu buat kerja, kadang mulai rasa rindu makanan Indonesia.

Makanya saya selalu katakan ke teman-teman, ‘udah lu naik Garuda aja deh, lu rasain dah enaknya’. Terus mereka tanya kenapa. Saya jawab lagi, ‘karena begitu lo masuk ke dalam pesawat, yang menyambut anda ngomong bahasa Indonesia, makanannya juga Indonesia banget’.

Karena waktu saya belum di Garuda, saya juga sebenarnya sering naik pesawat Garuda karena kebetulan anak saya di Belanda. Saya selalu naik garuda jika ke sana, begitu duduk jelas gitu yang saya tunggu apa. Waktu makanan datang minta tambahan kerupuk dan you feel at home, lah.

Saya tanya sama anda, banyak orang bilang maskapai lain lebih fantastic, lebih hebat dari Garuda ya silahkan. Tapi begitu turun, dan sampai di Bandara Soetta juga, resto padang yang bakal penumpang cari. Kenapa tidak waktu di atas (saat penerbangan) saja? Malah kadang-kadang kita bisa minta kecap sama sambal, dan itu tidak ada di pesawat lain.

Jadi ya lumayan beberapa belas jam dahului teman-teman yang lain, yang katanya naik pesawat lebih hebat daripada Garuda, bisa mendarat transit dimana-mana. Saya tidak tahu orang-orang padahal kita kan punya rute Jakarta-Amsterdam langsung kan, anda bisa merasakan kerupuk, sambel, di atasnya. Bisa ngomong sama awak kabin dengan bahasa Indonesia juga, banyak orang Indonesia juga.

Tapi masih banyak orang Indonesia mampir sana sini dulu, diperiksa lagi, muter-muter di airport, naik kabin lagi lagi, antre lagi, ngomong bahasa Inggris di kota yang tidak dikenal, makanan di pesawat tidak kemakan, begitu sampai bandara Soetta ujung-ujungnya nyari bakmi apa resto padang lagi. Jadi mending naik Garuda saja lah. []