News

Bukan Lagi Penguasa De Facto, Mohammed bin Salman Resmi Jadi Perdana Menteri Arab Saudi

Bukan Lagi Penguasa De Facto, Mohammed bin Salman Resmi Jadi Perdana Menteri Arab Saudi
Putra Mahkota Mohammed bin Salman berada di urutan pertama untuk menggantikan ayahnya sebagai raja Arab Saudi sejak 2017. (AFP)

AKURAT.CO Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman resmi diangkat sebagai perdana menteri, berdasarkan pengumuman reshuffle pemerintahan pada Selasa (27/9). Padahal, posisi tersebut biasanya dipegang oleh raja. Keputusan ini secara efektif meresmikan kekuasaan yang dipegang Mohammed bin Salman setelah beberapa tahun menjadi penguasa de facto kerajaan.

Dilansir dari AFP, pria 37 tahun itu berada di urutan pertama untuk menggantikan ayahnya sebagai raja sejak 2017.

Sebelumnya, Pangeran Mohammed menjadi menteri pertahanan pada 2015. Ini menjadi langkah kunci dalam konsolidasi cepat kekuasaan. Dalam jabatan tersebut, ia mengawasi aktivitas militer Arab Saudi di Yaman, di mana kerajaan memimpin koalisi yang mendukung pemerintah yang diakui secara internasional dalam melawan pemberontak Houthi yang bersekutu dengan Iran.

baca juga:

Mohammed bin Salman juga menjadi wajah publik dari agenda reformasi besar-besaran yang dinamai 'Visi 2030'. Perubahan itu mencakup mengizinkan perempuan untuk mengemudi, membuka bioskop, menerima turis asing, melucuti wewenang polisi agama, serta menjadi tuan rumah konser pop dan acara olahraga lainnya.

Namun, ia juga telah memenjarakan para kritikus, serta menahan dan mengancam sekitar 200 pangeran dan pengusaha di hotel Ritz-Carlton Riyadh dalam tindakan keras antikorupsi 2017 yang memperketat cengkeramannya pada kekuasaan.

Mohammed bin Salman juga mendunia atas kasus pembunuhan terhadap jurnalis pembangkang Saudi, Jamal Khashoggi, di konsulat kerajaan di Istanbul. Tahun lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mendeklasifikasi laporan intelijen yang menemukan bahwa Mohammed bin Salman telah menyetujui operasi terhadap Khashoggi. Pernyataan ini sontak dibantah oleh otoritas Saudi.

Namun, lonjakan harga energi yang dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina mendorong sejumlah pemimpin Barat untuk merapat ke Arab Saudi. Mereka mendatanginya untuk memohon peningkatan produksi minyak. Perdana Menteri Inggris saat itu, Boris Johnson, dan Biden sendiri sontak menjilat ludah mereka yang sebelumnya bersumpah akan mengucilkan kepemimpinan Saudi.

Sementara itu, sudah bertahun-tahun Arab Saudi meredam spekulasi soal kesehatan Raja Salman yang berusia 86 tahun. Pada 2017, Putra Mahkota menepis laporan dan maraknya spekulasi bahwa Raja berencana turun takhta demi Mohammed bin Salman.

Raja  Salman telah dirawat di rumah sakit 2 kali tahun ini. Yang terbaru, ia rawat inap selama 1 minggu di bulan Mei untuk berbagai tes, termasuk kolonoskopi.