Lifestyle

Gak Cuma Reog, Festival Gandrung Sewu dari Timur Jawa Juga Sudah Mendunia

Lebih dari 1000 orang menari di festival Gandrung Sewu. Festival ini telah digelar setiap tahun, pada bulan Oktober, sejak 2012.


Gak Cuma Reog, Festival Gandrung Sewu dari Timur Jawa Juga Sudah Mendunia
Festival Gandrung Sewu (WIKIPEDIA/Candra Firmansyah )

AKURAT.CO, Provinsi Jawa Timur terkenal dengan ragam acara yang digelar setiap tahunnya.Tercatat Jawa Timur memiliki ratusan festival, mulai dari budaya, kuliner hingga seni.

Saat membahas tentang kesenian Jawa Timur, kamu mungkin hanya mengenal Reog Ponorogo. Faktanya, Jawa Timur punya Festival Gandrung Sewu.

Pada festival ini, lebih dari seribu (sewu) penari berbusana merah menampilkan Tari Gandrung dengan pemandangan indah pantai Pantai Marina Boom, Desa Kampungmandar, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi. Pertunjukan tari Gandrung ini disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali.

Menurut laman resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Festival Gandrung Sewu digelar setiap tahun, pada bulan Oktober, sejak 2012. Festival ini sudah mendunia dan telah menjadi atraksi wisata di Banyuwangi yang paling ditunggu oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. 

Bukan Hanya Reog, Festival Gandrung Sewu Juga Sudah Mendunia - Foto 1
Festival Gandrung Sewu WIKIPEDIA/Riedoak

Sejarah Tari Gandrung

Tari Gandrung diciptakan pada era Kerajaan Blambangan. Gandrung sendiri memiliki arti kata terpesona. Ini menggambarkan wujud rasa syukur masyarakat Banyuwangi terhadap Dewi Padi atau yang biasa disebut dengan Dewi Sri karena telah membawa kesejahteraan lewat panen.

Pada awalnya, Gandrung hanya boleh ditarikan oleh para laki-laki berkisar antara 14-10 tahun. Mereka disebut sebagai gandrung lanang. Para penari laki-laki itu didandani dan diberi busana perempuan.

Namun, seiring perkembangan zaman tarian ini mengalami perubahan. Para laki-laki tak lagi berminat untuk menampilkan tarian. Selain itu, ajaran Islam melarang laki-laki berdandan seperti perempuan. Meski begitu, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914. Sejak saat itu, tari Gandrung Sewu mulai ditarikan dilakukan oleh perempuan.

Berdasarkan cacatan sejarah dari Joh Scholte dalam buku Gandroeng Van Banyuwangi 1926, kesenian Gandrung ini kembali muncul pada era kolonialisme Belanda sekitar tahun 1770-an. Pada masa itu, daerah Banyuwangi mengenal tarian ini sebagai aksi perlawanan terhadap penjajah Belanda. 

Gerakan Tari Gandung

Dalam Tari Gandung, setidaknya ada tiga bagian yang ditampilkan, yaitu:

Jejer

Jejer gandrung dilakukan sebagai penanda dimulainya tarian Gandrung. Pada bagian ini, penari Gandrung menari sendiri atau berkelompok, tanpa melibatkan tamu.

Paju (maju)

Setelah jejer, penari gandrung turun dari pentas menuju penonton atau tamu. Setiap penari akan mendampingi para penonton yang maju ke panggung untuk ikut menari secara bergantian. Setelah berakhir, penonton yang ikut menari memberikan uang saweran kepada penari yang diletakan di atas talam.

Seblak subuh

Seblak subuh dimulai dengan gerakan penari yang melambat dan penuh penghayatan, seiring alunan gending bernuansa kesedihan seperti seblang lokento.[]