Rahmah

Bukan dengan Caci Maki! Begini Cara Qur'ani dalam Menghadapi Perbedaan Pandangan

Kepada non muslim saja orang Islam dituntut untuk baik


Bukan dengan Caci Maki! Begini Cara Qur'ani dalam Menghadapi Perbedaan Pandangan
Ilustrasi (SALEMNET)

AKURAT.CO Perbedaan pandangan seringkali menimbulkan gejolak di tengah masyarakat. Bukan hanya sampai pada tindakan saling mengejek secara verbal, kadang sampai pada tindakan fisik yang sungguh membahayakan.

Dalam cara pandang Islam, menghadapi beda pandang ialah bukan dengan cara mencaci maki. Melalui ayat Al-Qur'an, Allah memerintahkan Nabi Muhammad dan tentu semua makhluk-Nya untuk tidak berkata dengan perkataan yang kasar, karena itu bagian dari setan, Allah SWT berfirman:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا. (الإسراء: 53)

Artinya: “Katakanlah Muhammad kepada hamba-hambaku yang beriman: ‘Hendaklah mereka katakan kalimah yang lebih baik kepada orang-orang kafir.’ Sungguh setan membuat kerusakan di antara mereka. Sungguh setan adalah musuh yang nyata bagi manusia” (QS. Al-Isra’: 53).

Imam Fakhr Ar-Razi menyebut, bila ada perbedaan pandangan di suatu kesempatan, maka hendaklah dihadapi dengan solusi-solusi terbaik, pun dengan perkataan-perkataan terbaik, ia mengatakan:

وَقُلْ يَا مُحَمَّدُ لِعِبَادِي إِذَا أَرَدْتُمْ إِيرَادَ الْحُجَّةِ عَلَى الْمُخَالِفِينَ، فَاذْكُرُوا تِلْكَ الدَّلَائِلَ بِالطَّرِيقِ الْأَحْسَنِ وَهُوَ أَنْ لَا يَكُونَ ذِكْرُ الْحُجَّةِ مَخْلُوطًا بِالشَّتْمِ وَالسَّبِّ   

Artinya: “Dan katakanlah wahai Muhammad kepada hamba-hamba-Ku: ‘Jika kalian hendak menyampaikan hujjah terhadap orang-orang yang berbeda pandangan, maka sampaikan dalil-dalil atau hujjah-hujah itu dengan cara yang terbaik. Yaitu penyampaian hujjah hendaknya tidak dicampuri dengan kutukan dan sumpah serapah."

Al-Qur’an, juga menyampaikan agar dalam berdakwah kita menyampaikan dengan cara-cara yang santun, hikmat dan tuturan-tuturan yang baik, tidak berdebat kecuali dengan bahasa-bahasa yang baik, Allah SWT berfirman:

 اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ. (النحل: 125)    

Artinya: “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sungguh Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalannya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl: 125).

Dalam ayat Al-Qur'an yang lain, Allah SWT berfirman:

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ. (العنكبوت: 46)   

Artinya: “Dan jangankah kalian berdebat dengan Ahli Kitab kecuali dengan cara yang terbaik, melainkan dengan orang orang-orang yang zalim di antara mereka. Dan katakanlah: ‘Kami telah beriman (kepada kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan kepada kalian. Tuhan kami dan tuhan kalian adalah satu, dan kami hanya berserah diri kepada-Nya’.” (QS. al-‘Ankabut: 46).