Lifestyle

Bukan Anosmia, Omicron Lebih Sering Sebabkan Sakit Tenggorokan

Gejala Omicron sedikit berbeda dengan gejala infeksi Covid-19 yang diketahui publik


Bukan Anosmia, Omicron Lebih Sering Sebabkan Sakit Tenggorokan
Ilustrasi - Gejala Omicron sakit tenggorokan (Unsplash/Towfiqu barbhuiya)

AKURAT.CO Kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia terus bertambah. Pada 15 Januari 2022, tercatat ada 758 kasus Omicron.

Berdasarkan penelitian, kasus Omicron cenderung memiliki gejala ringan hingga tanpa gejala. Akan tetapi, gejala Omicron sedikit berbeda dengan gejala infeksi Covid-19 yang diketahui publik seperti demam, batuk, kehilangan kemampuan penciuman (anosmia), dan kesulitan bernapas.

Peter Gulick, DO , seorang profesor kedokteran di Michigan State University, mengatakan bahwa gejala Omicron terutama tetap berada di saluran pernapasan bagian atas dan dapat mencakup sakit tenggorokan, hidung tersumbat, pilek, dan sakit kepala. 

baca juga:

“Kadang-kadang bisa terjadi mual dan diare. Orang lain mungkin mengalami nyeri otot, demam, dan kedinginan,” kata Gulick, dikutip AKURAT.CO pada Senin (17/1/2022). 

Gejala-gejala Omicron kerap dimaknai sebagai indikasi flu biasa. Salah satunya adalah gejala sakit tenggorokan. Berdasarkan penelitian di Inggris, sakit tenggorokan ternyata cukup identik dengan varian Omicron. Dokter Adam Prabata mengungkapkan bahwa varian Omicron lebih sering menyebabkan sakit tenggorokan dibandingkan Delta.  Bahkan pasien Omicron tidak banyak mengalami gejala anosmia seperti kasus Covid-19 sebelumnya. 

"Berdasarkan penelitian di Inggris, gejala nyeri tenggorokan lebih sering ditemukan pada orang yang terkena varian Omicron dibandingkan varian Delta hingga hampir dua kali lebih tinggi," ujar Adam Prabata lewat Instagram pribadinya. 

"Di lain sisi, keluhan anosmia alias kehilangan penciuman lebih jarang ditemukan pada penderita varian Omicron," imbuhnya. 

Lebih lanjut, dokter Adam menegaskan bahwa hasil penelitian ini tidak bersifat mutlak sehingga masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. 

"Meskipun demikian, masih ada kemungkinan kalau hasil penelitian ini hanya "insidental", sehingga butuh penelitian lebih lanjut untuk memastikannya," tegasnya. 

Jika kamu mengalami gejaka Covid-19 segera lakukan tes dan isolasi diri jika mengalami gejala ringan, atau periksa ke rumah sakit. 

Sebelumnya, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa  tingkat keparahan varian Omicron ditemukan rendah. Oleh sebab itu, Budime minta masyarakat tidak terlalu khawatir jika nantinya terjadi kenaikan kasus Covid-19.