News

Budaya Literasi Adalah Keharusan, Bukan Pilihan

Budaya literasi adalah budaya kolektif yang telah menjadi kebutuhan di tengah masyarakat


Budaya Literasi Adalah Keharusan, Bukan Pilihan

AKURAT.CO  Duta Baca merupakan role model dan katalisator kampanye budaya baca. Inovasi program dan kreatifitasnya dalam upaya meningkatkan budaya baca selalu dinantikan. Namun saat melaksanakan tugas tentu tidak selalu berjalan mulus. Acapkali perbedaan budaya menjadi hambatan. Maka, penting untuk menyamakan persepsi dan bersinergi diantara sesama pegiat literasi.

“Literasi sudah mengalami perkembangan pesat. Masyarakat dan negara akan survive ketika mempunyai budaya literasi yang kuat, mampu berkompetisi, meningkatkan ekonomi dan menjadi produktif sehingga kesejahteraan terus meningkat,” imbuh Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpustakaan Nasional Adin Bondar pada Webinar Rembug Duta Baca se-Indonesia, pada Kamis, (9/12/2021). 

Literasi merupakan bagian terpenting untuk terus digerakkan. Oleh karena itu, gerakan membaca dan literasi harus diikrarkan sebagai gerakan sosial (social movement) yang tidak dibatasi. Budaya literasi adalah budaya kolektif yang telah menjadi kebutuhan di tengah masyarakat. “Kegemaran baca dan budaya literasi adalah keharusan, bukan pilihan,” tambah Adin.

Laju perkembangan Iptek ditengah ekonomi modern telah membuka mata bahwa pengetahuan adalah kunci penggerak utama ekonomi. Sumber daya pengetahuan tidak akan habis, beda dengan kekayaan alam. Dampak literasi secara makro bukan hanya sebatas pada pertumbuhan ekonomi melainkan juga soal kepekaan dan tanggung jawab sosial. 

Saking pentingnya pertumbuhan literasi, Perpusnas mengangkat topi terhadap peran aktif para pegiat literasi, bunda literasi, dan duta baca. Tidak ada alasan bagi Perpusnas untuk tidak memperkuat peran dan posisi mereka. Data Perpusnas mencatat tidak kurang 16.331 pegiat literasi tersebar se-antero negeri dan ini adalah potensi luar biasa.

“Aktifitas mereka tidak bisa parsial, dan peran Duta Baca Indonesia disini adalah memformulasikan agar tercipta ruang berbagi pengalaman, sharing knowledge agar setiap program kegiatan memiliki makna dan derap langkah yang sama,” jelas Adin.   

Ketua Paguyuban Duta Baca Provinsi Jawa Barat Imam Muhamad Agung Fauzy menambahkan bahwa setiap aktivitas literasi memerlukan banyak pelibatan. Maka itu, sinergi mutlak diperlukan. Ia beralasan ikhtiar ini dilakukan agar perkembangan dan pertumbuhan literasi merata. 

“Kampanye literasi tidak lagi bermain pada forum-forum diskusi, melainkan aksi nyata, seperti yang saat ini dirintis bersama dinas perpustakaan daerah, yakni masuk ke ranah pendidikan, melakukan safari literasi di hari tertentu serta mengangkat duta baca dari berbagai jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas,” beber Imam. 

Sementara itu, Duta Baca Provinsi Jawa Timur Heraldha Savira, sependapat bahwa para pelajar harus direkrut untuk bersinergi dengan masyarakat. Faktanya, sejumlah ide-ide maupun program literasi mereka yang sangat relate dengan kebutuhan masyarakat.