Lifestyle

Buang Bong, Ritual Sakral Suku Sawang di Pulau Belitung

Buang jong merupakan ritual yang secara turun-temurun dilakukan oleh masyarakat Sawang (Suku Laut) di Pulau Belitung.


Buang Bong, Ritual Sakral Suku Sawang di Pulau Belitung
Ritual buang bong di Belitung (bangkaselatankab.go.id)

AKURAT.CO  Buang jong merupakan ritual yang secara turun-temurun dilakukan oleh masyarakat Sawang (Suku Laut) di Pulau Belitung. Adapun Sawang sendiri merupakan suku asli Belitung yang kehidupannya tergantung pada hasil laut.

Jong  sendiri dalam bahasa setempat berarti perahu. Tradisi ini dilakukan untuk menghormati leluhur dan keluarga yang telah tiada, serta simbol persembahan pada penguasa atau dewa laut.

Melansir dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, buang jong atau disebut juga dengan buang patong merupakan tradisi membuang kapal yang berhubungan dengan sistem kepercayaan animisme dan dinamisme. Ritual ini sangat melakat dalam diri orang Sawang. Oleh sebab itu, mereka tetap melakukan ritual ini meski sudah memeluk agama. 

baca juga:

Ritual buang jong dilakukan selam tiga hari tiga malam berturut-turut yang terdiri dari beberapa ritual, yakni bediker, naik jitun, mancing, numbak, campak laut, hingga buang jong ke laut. 

Upacara ini diawali dengan pengambilan kayu ke hutan. Lokasi pengambilan kayu tidak boleh sembarangan. Pemuka adat sebelumnya sudah melakukan penyelidikan di hutan untuk menentukan kayu yang boleh diambil. Keesokan harinya pemuka adat dan pengiringnya memasuki hutan kayu dan mengambil kayu dari lokasi yang telah ditentukan. Sesampainya di tempat yang dituju, pemuka adat mengadakan komunikasi secara gaib dengan makhluk halus penghuni hutan itu. Pohon boleh ditebang setelah mendapatkan isyarat dari pemuka agama.

Setelah mendapatkan kayu yang dibutuhkan, masyarakat Sawang mulai membuat sebuah kapal berukuran sekitar tiga kali satu meter. Kapal tersebut harus selesai dalam tiga hari. Bersamaan dengan kapal, dibuat pula empat buah rumah-rumahan dari kayu, pelepah kelapa, dan dedaunan. Masyarakat Sawang juga perlu mempersiapkan aneka sesajen seperti dua sisir pisang, empat buah lepat, enam buah kelapa yang diikat jadi satu, dan sebatang lilin.

Sesaji di ritual buang bong   belitungisland.com

Pada saat kapal selesai dibuat, pemuka adat akan mengadakan upacara yang disebut bedekar pada malam harinya. Orang-orang akan menari dan berpesta mengelilingi perahu, disertai iringan syair-syair magis tentang dewa laut.

Kemudian ada Tarian Ancak dilakukan oleh penari laki-laki di tengah hutan. Mereka menggoyang-goyangkan replika kerangka rumah yang nantinya akan dilarung ke empat penjuru mata angin. Ada juga penampilan seorang pemuda yang kerasukan dan memanjat tiang pohon pinang (naik jitun). Setelah Tarian Ancak, prosesi buang jong dilanjutkan dengan Tari Sambang Tali yang merepresentasikan kehidupan nelayan di laut.

Selanjutnya, ada numbak yang merupakan ritual mengikatkan tali pada sebuah tombak sambil membaca mantra. Kemudian, prosesi dilanjutkan dengan memancing ikan dan melakukan jual-beli jong.

Ini merupakan aktivitas transaksi jual-beli Suku Sawang dengan orang darat. Sistem pembayarannya tidak menggunakan uang, melainkan barang (barter). Prosesi ini bukan hanya bermakna ekonomi, tapi juga sosial. Kedua belah pihak sepakat untuk saling mendukung satu sama lain. 

Setelah jual-beli bong, prosesi dilanjutkan dengan buang jong. Ritual ini dilakukan  dengan melarung atau membuang jong (perahu kecil) ke lautan. Selain jong, ada juga ancak atau rumah-rumahan dari bambu yang didalamnya diletakkan beberapa sesaji. Ritual kemudian ditutup dengan bedaek atau bersyukur yang dilakukan dengan cara berbalas pantun.

Usai ritual buang jong, masyarakat Sawang dilarang untuk melaut selama tiga hari.  Adapun ritual buang jong sudah menjadi Warisan Budaya Tak Benda dari Kemendikbud RI pada 2016.