Ekonomi

BTN Mulai Fokus Cari Dana Murah Dengan Manfaatkan DPK

BTN Mulai Fokus Cari Dana Murah Dengan Manfaatkan DPK
Nasabah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. sedang bertransaksi di salah satu kantor cabang di Jakarta, Kamis (7/10/2021). (AKURAT.CO/Dok Humas)

AKURAT.CO PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mulai meninggalkan sumber dana dari penerbitan surat berharga hingga suntikan dari negara. Kian mahal jadi alasan BTN kini fokus mecari dana murah.

Direktur Keuangan BTN Nofry Rony Poetra menjelaskan, saat ini BTN fokus untuk untuk mencari dana murah dengan meningkatkan dana pihak ketiga (DPK). Caranya, dengan mendorong DPK dari sisi tabungan dan giro atau curent account saving account (CASA).

Dengan begitu perusahaan bisa meningkatkan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) dengan melakukan perbaikan struktur dana serta menggenjot produk pembiayaan bermargin tinggi (high yield margin).

baca juga:

"NIM BBTN pada akhir September 2022 mencapai 4,51 persen, meningkat signifikan dibandingkan setahun sebelumnya yang tercatat 3,52 persen. "Kami akan fokus meningkatkan NIM dengan menurunkan biaya dana dan mengeluarkan produk high yield margin," ujarnya dikutip Senin (5/12/2022).

Dalam menurunkan biaya dana, BBTN fokus pada pengembangan dana murah melalui produk tabungan dan giro (current account saving account/CASA). Hal ini berkat transformasi cabang yang dilakukan oleh BBTN sejak 2019 lalu.

"Jadi cabang saat ini fokus untuk jualan baik funding maupun lending. Dulu cabang KPI (key performance indicator) tidak fokus terhadap jualan, karena juga ngurusin operation. Mulai dari procurement sampai analisa kredit," ujarnya.

Seperti diketahui BTN saat ini juga melakukan transformasi digital dengan BTN Mobile. BTN juga tercatat sedang dan telah mengembangkan tabungan bisnis yang diperuntukkan untuk transaksi perbankan para pelaku usaha. Produk ini diharapkan menggaet dana developer yang selama ini sudah menjadi nasabah kredit, tapi masih menggunakan bank lain untuk transaksi bisnis.

Sebagai informasi, produk tabungan dan giro (current account saving account/CASA) BBTN tumbuh 18,7 persen secara year on year menjadi Rp143,59 triliun pada akhir September 2022. CASA berkontribusi 45 persen terhadap total DPK senilai Rp312,84 triliun. Kenaikan dana murah ini berhasil menekan biaya dana atau cost of fund pada akhir September 2022 menjadi 2,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,28 persen.

Sebagai catatan, untuk menggenjot produk bermargin tinggi, BTN getol memasarkan produk Kredit Agunan Rumah (KAR) atau dikenal sebagai KPR Top Up. Produk ini diperuntukan bagi nasabah eksisting BTN yang ingin melakukan top up plafon pinjaman untuk kebutuhan usaha ataupun renovasi rumah.

Menurut Nofry, potensi pasar untuk KPR Top Up sangat besar karena ada 500 ribu sampai 600 ribu nasabah KPR BTN yang sudah menjalani 10 tahun cicilan. Nasabah tersebut terekam memiliki kinerja cicilan yang bagus sehingga layak untuk dibiayai kembali.

Nofry menambahkan produk high yield margin lainnya adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR). Saat ini portofolio KUR BBTN masih dikisaran Rp500-600 miliar dan akan ditingkatkan sekitar 6 kali lipat menjadi Rp3 triliun.

Pada kesempatan yang sama Nofry memproyeksi BTN bisa meraih laba bersih sekitar Rp2,9 triliun hingga Rp3 triliun pada kinerja full year 2022. Bila dibandingkan dengan kinerja keuangan tahun 2021, laba bersih BBTN bisa melesat di kisaran 22,36 persen sampai 26,58 persen pada akhir tahun ini. "Laba akhir tahun diperkirakan bisa mencapai Rp2,9 triliun hingga Rp3 triliun," ujar Nofry. []