Tech

BRIN Kembangkan Riset Kapsul Lunak Berbahan Dasar Rumput Laut

Bahan gelatin pada kapsul lunak diganti dengan menggunakan rumput laut.


BRIN Kembangkan Riset Kapsul Lunak Berbahan Dasar Rumput Laut
Kapsul lunak berbahan dasar rumput laut. (brin.go.id)

AKURAT.CO Selama pandemi Covid-19, menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) konsumsi suplemen dan multivitamin masyarakat Indonesia meningkat.

Peningkatan tersebut juga memengaruhi lonjakan kebutuhan suplemen dan multivitamin kemasan berbentuk kapsul. 

Bentuk kapsul yang diminati berupa cangkang kapsul maupun kapsul lunak.

baca juga:

Kebutuhan kapsul lunak (soft capsule) sendiri mencapai tiga miliar butir per tahunnya.

Di mana 90% diantaranya masih didominasi dari bahan gelatin hewani.

Tingginya penggunaan gelatin pada kapsul lunak, bisa disubstitusi dengan menggunakan bahan berbasis vegetable (sayuran) yang bisa ditemukan di tumbuhan rumput laut sebagai bahan dasarnya.

Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua setelah Tiongkok, dengan volume ekspor tahun 2020 sebesar 195.574 ton dengan nilai mencapai USD 279,58 juta. 

Dengan melimpahnya ketersediaan bahan baku dan potensi yang besar dari rumput laut, tim periset dari Pusat Teknologi Agroindustri (PTA) BRIN melakukan riset aplikatif untuk produk bernilai tambah dari rumput laut dengan mengembangkan kapsul lunak berbasis rumput laut.

Pada bulan Desember 2021, tim periset BRIN menemukan formulasi yang tepat untuk digunakan dalam skala industri. Tim tersebut berhasil menghasilkan prototipe kapsul lunak yang diinginkan.

Periset PTA BRIN Taufik Hidayat mengatakan, timnya berhasil menghasilkan kapsul lunak dengan elastisitas tinggi, tingkat daya rekat yang baik, tidak berbau, dan tidak bocor.

"Untuk mendapatkan karakteristik tersebut, tim melakukan kajian terkait aspek bahan baku dan komposisi formula yang dapat digunakan untuk menghasilkan kapsul lunak. Akhirnya, didapatkan kombinasi karagenan yang sesuai untuk dikembangkan di skala Industri,” ujar Taufik, dilansir dari laman BRIN.

Ia juga mengatakan, keunggulan menggunakan karagenan, yaitu memiliki viskositas dan elastisitas yang tinggi dan  dipastikan halal untuk konsumen vegetarian.

Ia sendiri optimis dengan hasil riset yang dilaksanakan oleh timnya.

Ia mengklaim bahwa kapsul lunak berbasis tumbuhan tersebut lebih tepat dan optimal untuk membungkus bahan aktif (isian kapsul) yang juga berasal dari tumbuhan, seperti vitamin non-hewani, jamu, obat herbal, dan fitofarmaka.

Taufik menyebut, tren kapsul lunak juga mulai diminati oleh pelaku industri di dunia.

Bahkan industri kapsul besar di Tiongkok memprediksi pada tahun 2025 kapsul berbasis non gelatin menjadi salah satu segmen yang paling menguntungkan.

Melalui riset yang dilakukan secara berkesinambungan BRIN, diharapkan dapat menciptakan kapsul lunak rumput laut yang sesuai dengan standar farmakope dan BPOM, sehingga siap untuk dikomersialkan dan dipasarkan kepada masyarakat.

"Pembuatan kapsul lunak di Indonesia sendiri dikatakan merupakan teknologi yang advance. Hal ini dikarenakan proses enkapsulasi dan pembentukan prototipe dibutuhkan mesin," kata Taufik.

Ia menjelaskan pembuatan kapsul lunak berbasis rumput laut dimulai dari optimasi formulasi skala lab yang dilakukan di lab Pengolahan Perikanan Agroindustri.

Kemudian dilanjutkan dengan produksi langsung di lokasi pabrik mitra industri.