Ekonomi

BPS: Neraca Dagang RI September 2021 Surplus USD4,37 Miliar

BPS: neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus USD4,37 miliar pada September 2021. Dengan demikian, surplus secara 17 bulan beruntun.


BPS: Neraca Dagang RI September 2021 Surplus USD4,37 Miliar
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (3/11/2018). Badan Pusat Statistik (BPS) merilis nilai ekspor dan impor pada Juli 2018. Pada periode tersebut, ekspor Indonesia tembus US$ 16,24 miliar atau tumbuh 19,33% secara tahunan. Sementara impor naik 31,56% tahunan menjadi US$18,27 miliar. Sehingga defisit neraca perdagangan bulan lalu mencapai US$2,03 miliar. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus USD4,37 miliar pada September 2021 dengan nilai ekspor USD20,60 miliar dan impor USD16,23 miliar.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan dengan capaian tersebut maka, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus 17 bulan secara beruntun.

Ia menuturkan, komoditi nonmigas penyumbang surplus terbesar adalah bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan nabati, serta besi dan baja. Sedangkan, negara yang memberikan andil terhadap surplus terbesar yaitu Amerika Serikat, India, dan Filipina.

"Neraca perdagangan dengan AS mengalami surplus USD1,5 miliar dengan komoditas surplus terbesar yakni pakaian dan aksesorinya," ujar Margo dalam konferensi pers yang juga digelar secara virtual, Jumat (15/10/2021)

Kemudian, perdagangan dengan India juga mengalami surplus sebesar USD718,6 juta dengan komoditas utama bahan bakar mineral dan lemak minyak hewan nabati.

Surplus perdagangan juga dialami dengan Filipina yang mencapai USD713,9 juta, di mana komoditas penyumbang surplus terbesar yaitu bahan bakar mineral serta kendaraan dan bagiannya.

Kendati demikian, perdagangan RI juga mengalami defisit dengan beberapa negara, di mana yang terbesar adalah perdagangan dengan Australia, Thailand, dan Ukraina.

"Defisit dengan Australia sebesar USD529,7 juta itu karena bahan bakar mineral; dan bijih logam, perak, dan abu," ujar Margo.

Sedangkan, defisit perdagangan dengan Thailand mencapai USD346,8 juta yang disebabkan oleh komoditas plastik dan barang dari plastik, diikuti dengan mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya.

Sementara, perdagangan dengan Ukraina terjadi defisit sebesar USD247,2 juta dengan komoditas utama serealia serta besi dan baja.

Dengan demikian, neraca perdagangan RI secara kumulatif pada periode Januari-September 2021 mengalami surplus USD25,07 miliar.