Lifestyle

BPOM Temukan Iklan Obat dan Jamu 'Overclaim'

Berjualan secara online dan volume transaksi menggunakan uang elektronik di Indonesia menjadi tren, termasuk penjual obat tradisional dan jamu.


BPOM Temukan Iklan Obat dan Jamu 'Overclaim'
Ketua Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito di Gedung BPOM, Johar Baru, Jakarta Pusat, Senin (23/12/2019). (AKURAT.CO/Abdul Haris)

AKURAT.CO Tantangan perkembangan teknologi dan kemajuan zaman, saat ini berkembang seiring dengan peningkatan tren produk yang diedarkan secara online.

Tren ini telah meningkatkan jumlah pelaku usaha yang berjualan secara online dan volume transaksi menggunakan uang elektronik di Indonesia, termasuk penjual obat tradisional dan jamu.

Berdasarkan data pengawasan Badan POM tahun 2021, iklan obat tradisional dan suplemen kesehatan secara online yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) jauh lebih tinggi dibandingkan dengan iklan konvensional, yakni sebesar 61,12% (online) berbanding 21,76% (konvensional).

baca juga:

Kemudian, sebanyak 80,21% pelanggaran iklan obat tradisional dan suplemen kesehatan di media online dilakukan oleh penjual nonprodusen/distributor (nonofficial seller). 

Dari keseluruhan pelanggaran iklan online yang dilakukan nonofficial seller tersebut, sekitar 61% terjadi di platform marketplace dan sebagian besarnya merupakan pelaku Usaha Mikro Kecil (UMK).

"Klaim itu harus berbasiskan sains harus ada data yang mendukung. Apalagi seperti jamu dan obat tradisional kan harus ada basisnya," ujar Kepala Badan POM Penny K Lukito dalam konferensi pers Program Zona Ramah Promosi Online, pada Jumat (27/5/2022).

Penny menambahkan bahwa pelanggaran tersebut umumnya disebabkan karena pelaku usaha belum memahami regulasi yang berkaitan dengan peredaran dan iklan obat tradisional dan suplemen kesehatan.

Produk obat-obatan tradisional dan jamu yang dijual online dengan promosi overclaim, meliputi produk-produk yang mengklaim bisa menyembuhkan Covid-19 dan produk obat kuat.

"Pada produk overclaim dan belum ditentukan izin edarnya, klaim yg tidak boleh seperti dapat membunuh virus covid, dapat membuat mental virus covid, menambah kejantanan pria, dan sebagainya," ungkap Reni Indriani sebagai Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan POM, pada kesempatan yang sama.

Sebagai informasi, Badan POM telah mendeteksi dan mengajukan rekomendasi takedown kepada KOMINFO dan IdEA (Asosiasi E-Commerce Indonesia) terhadap tautan/link terkait penjualan obat dan makanan secara online yang tidak memenuhi ketentuan sebanyak 286.844 tautan/link di tahun 2021 dan 126.331 tautan/link dari Januari sampai April 2022.