Ekonomi

BPK: Pandemi Munculkan Risiko Laporan Keuangan K/L, dari Moral Hazard Hingga Fraud


BPK: Pandemi Munculkan Risiko Laporan Keuangan K/L, dari Moral Hazard Hingga Fraud
Kantor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia (AKURAT.CO/Denny Iswanto)

AKURAT.CO Pimpinan Pemeriksaan Keuangan Negara I BPK RI Hendra Susanto menyatakan adanya pandemi COVID-19 menimbulkan beberapa risiko bagi kementerian/lembaga (K/L) dalam menyusun laporan keuangan.

“Pandemi menimbulkan beberapa risiko bagi K/L dalam melaksanakan tugas dan fungsinya termasuk dalam penyusunan laporan keuangan,” katanya dalam acara Pemeriksaan Laporan Keuangan Kementerian Lembaga lingkungan Auditorat Keuangan Negara (AKN) I BPK di Jakarta, Kamis (4/2/2021).

Dilansir dari Antara, Hendra menyebutkan terdapat lima risiko yang dihadapi K/L dalam menyusun laporan keuangan di tengah krisis pandemi yaitu strategis, moral hazard dan kecurangan, operasional, kepatuhan, serta penyajian.

Ia menjelaskan risiko strategis merupakan risiko tujuan kebijakan penanggulangan pandemi COVID-19 yang tidak tercapai secara efektif dan efisien.

Kemudian risiko moral hazard dan kecurangan atau fraud merupakan risiko penyalahgunaan wewenang dan kecurangan dalam melaksanakan kebijakan yang dapat merugikan keuangan negara.

“Ini seperti yang terjadi di Kementerian Sosial. Ini adalah contoh moral hazard dan kecurangan,” ujarnya.

Selanjutnya, risiko operasional yaitu risiko terkendalanya pelaksanaan di lapangan karena kompleksitas kegiatan, rentan kendali yang luas, koordinasi pusat dan daerah, validitas data dan banyaknya peraturan baru yang harus diterapkan dalam waktu cepat.

Berikutnya, risiko kepatuhan yakni risiko pelanggaran terhadap pelanggaran perundangan termasuk risiko penyimpangan dalam pengadaan barang dan jasa yang dapat menimbulkan risiko hukum.

Terakhir, risiko penyajian laporan keuangan adalah risiko penyimpangan dalam pengadaan barang dan jasa di masa pandemi yang dapat mempengaruhi akun belanja modal, belanja barang, persediaan dan aset tetap.

“Ini akan berdampak pada kewajaran penyajian laporan keuangan pemerintah,” katanya.

Hendra mengatakan audit BPK akan berfokus pada aspek-aspek yang berisiko terkait akun atau satker agar diperoleh keyakinan yang memadai mengenai kewajaran penyediaan laporan keuangan dalam penentuan opini.

Ia menjelaskan nantinya pemeriksaan BPK atas K/L akan termasuk pola penyajian dan pertanggungjawaban atas pengelolaan anggaran untuk penanganan COVID-19.

Hal itu dilakukan terhadap anggaran, baik yang bersumber dari bendahara umum negara maupun hasil refocusing dan realokasi di di masing-masing K/L.

Sementara itu, pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga (LKKL) akan dimulai sejak Januari sampai April 2021.

“Pada pemeriksaan itu dilakukan pengumpulan data dan informasi serta dokumen yang berkaitan dengan laporan keuangan. Kemudian dilanjutkan dengan pengujian ke satker di daerah,” katanya.[]

Sumber: Antara